<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Menulis Tanpa Berguru</title>
	<atom:link href="http://www.webersis.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://webersis.com</link>
	<description>Ersis Writing Theory (EWT): Menulis Ala Posmodernis</description>
	<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 16:11:33 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Memupuk Senang Menulis (9.8)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/09/memupuk-senang-menulis-98/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/09/memupuk-senang-menulis-98/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 16:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[Menulis menuangkan pikiran. Kalau pikiran itu sendiri sedang ruwet manalah mungkin dituangkan, dituliskan. Kalau dipaksakan akan centrang-prenang. Pikiran yang siap ditulis, dibeking suasana hati, biar keren, ada yang menamainya mood, atau lebih tepatnya, in the mood. Tidak usah diperdebatkan mood suasana hati sementara yang akan dituliskan pikiran.
Yang pasti, kalau pikiran ruwet agak susah menulis. Walau, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis menuangkan pikiran. Kalau pikiran itu sendiri sedang ruwet manalah mungkin dituangkan, dituliskan. Kalau dipaksakan akan centrang-prenang. Pikiran yang siap ditulis, dibeking suasana hati, biar keren, ada yang menamainya mood, atau lebih tepatnya, in the mood. Tidak usah diperdebatkan mood suasana hati sementara yang akan dituliskan pikiran.</p>
<p>Yang pasti, kalau pikiran ruwet agak susah menulis. Walau, dalam praktiknya, keruwetan pikiran kalau ditulis malahan membuat kenyamanan. Susah kan berteori? Karena itu lebih bagus melatih menulis dalam suasana apa pun.<span id="more-1368"></span><!--more--></p>
<p>Seorang kawan mengeluh, menulis di blog atau FB, jarang dikunjungi. Kalau pun dikunjungi dan dikomen, duh &#8230; komentarnya sadis. Nah, lho. Dia melakukan dua kesalahan dengan manajemen perasaan tidak positif.</p>
<p>Pertama, menulis ya menulis saja. Dalam bahasa saya, belajar, membelajarkan diri. Tidak dikunjungi orang terkarena belum ‘dikenal’. Kalau dikenal baru tahu rasa, bikin repot kalau tidak dinikmati. Dengan kata lain, nikmati menulisnya.</p>
<p>Kedua, komentar sesadis apa pun, jadikan masukan. Kalau tidak berkenan hapus. Hal sangat sederhana. Tetapi, dari aneka komentar itu kita ‘belajar’. Saya sering mendapat ide dari komentar. Orang Banjar bilang: Baai tatawa ja. Atau ketawakan komentar miring tersebut, teruskan melatih menulis. Positifnya ambil, jadikan pemicu dan pemacu menulis.</p>
<p>Menulis sebaiknya dimaknai menyenangkan dan membuat senang. Kalau tulisan tidak menyenangkan, jangan baca. Kalau ada komen tidak menyenangkan, jangan baca. Tidak dibaca berarti ‘melawan’. Meniru Gandhi, melakoni non-violent. Dengan demikian ‘senang’ diri terpelihara. Berpikir terbalik, kalau perasaan terganggu, tercapai maksud orang yang tidak menyenangkan? Kita rugi. Perasaan terganggu, menulis mentok. Tidak ada manfaatnya.</p>
<p>Dalam kapasitas belajar, apalagi dalam belajar menulis, bagaimana agar senang dan menyenangkan itu yang perlu dipupuk. Bacalah hal yang menyenangkan, kunjungi blog atau FB yang menyenangkan, nikmati tulisan yang menyenangkan, yang membangun kesenangan. Tentu, bukan asal senang. Senang positif, senang yang bermanfaat.</p>
<p>Saya pun sering menggoda dengan tusukan tajam. Tapi, sasarannya umum, pola umum. Tidak pernah pribadi. Kalau yang disasar pola umum ada yang tidak senang, bukan urusan kita. Begitulah dunia menulis, ada yang senang, ada yang tidak senang. Manusia itu berbeda-beda. Itu prinsip dasar.</p>
<p>Lebih mendasar, memelihara kesenangan. Kalau mendapat hal yang tidak disenangi, ya cuekin saja. Ibaratnya: Jangan menyimpan pakaian buruk, yang tidak bermanfaat di lemari kesayangan. Masyak sih yang di simpan wajan jebol? Simpanlah yang baik, yang bermanfaat. Mari pelihara hal-hal menyenangkan, menulis yang menyenangkan.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/09/memupuk-senang-menulis-98/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Bersama 2010 (01)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/08/buku-bersama-2010-01/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/08/buku-bersama-2010-01/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 09:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Keajaiban Umrah Ramadhan
Oleh Om Abenk (identitas?)
Keajaiban tidak pernah kita sangka. Kita tidak dapat merekayasanya. Keajaiban hak prerogatif Allah SWT. Keajaiban datang tidak mengenal waktu dan tempat tanpa kita sadari muncul begitu saja di hadapan kita sebagai sebuah fenomena yangg sungguh sangat luar biasa. Kejaiaban adalah kurniah Allah SWT.
Alhamdulillah. Pada bulan Ramdhan 2007 saya berkesempatan melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keajaiban Umrah Ramadhan</strong></p>
<p><strong>Oleh Om Abenk</strong> (identitas?)</p>
<p>Keajaiban tidak pernah kita sangka. Kita tidak dapat merekayasanya. Keajaiban hak prerogatif Allah SWT. Keajaiban datang tidak mengenal waktu dan tempat tanpa kita sadari muncul begitu saja di hadapan kita sebagai sebuah fenomena yangg sungguh sangat luar biasa. Kejaiaban adalah kurniah Allah SWT.</p>
<p>Alhamdulillah. Pada bulan Ramdhan 2007 saya berkesempatan melakukan ibadah umrah. Kenangannya dibagi kepada ‘Jamaah Fesbikyah’, mana tahu, ada hikmah dari keajaiban yang saya alami dan semoga menjadi pemicu kita semua mendekat diri kepada Dzat Yang Maha Agung. Betapa tidak. Allah SWT berkenan memperjalankan hambanya yang dhoif ke Tanah Haram melalui ibadah umrah Ramadhan.<span id="more-1369"></span></p>
<p>Begitulah. Tanpa terasa pesawat Garuda Indonesia mendarat di King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi. Perasaan galau, haru, gembira campur aduk menrepa jiwa. Tidak sabar hati dibuai angan yang segera akan menjadi kenyataan, mengunjungi kampung Rasullullah, Madinah al Munawarah.</p>
<p>Ke luar dari banadara yang luas dan megah kami menaiki bis yang membawa ke Madinah. Saya duduk sembari memegang minuman botol dan roti yangg dibeli di Jeddah. Pada pertengahan perjalanan, tiba-tiba saya tidak mampu menahan tangis yang membuncah dari dalam. Tersedu-sedu dalam tangis tertahan karena takut mengganggu jamaah lainnya. Teringat Rasullullah SAW takkala beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan pakaian seadanya dan dengan bekal seadanya.</p>
<p>Berhari-hari Rasulllullah SAW berjalan menuju Madinah menghindari upaya pembunuhan kaumnya sendiri, Qurais. Persaan luluh dalam sedih dan p[rihatin, Rasullullah SAW sangat menderita terusir dari negerinya , dikejar-kejar untuk dibunuh. Dalam hati dalam deraian air mata: “Ya Rasullulah, maafkan kami yangg tidak tahu diri ini. Kami duduk di bis berpendidingin sembari makan dan minum dan terkadang bercanda menuju tanah hijrahmu. Engkau, ya junjungan,  berhari-hari tidak makan tidak minum dalam kejaran para pembunuh. Maafkan kami Ya Rasul. Kami khilaf. Kami bisa begini berkat perjuanganmu.</p>
<p>Ya Rasul, ya Rasulullah. Engkau rela mempertaruhkan nyawa demi tegaknya syiar Islam. Maafkan kami Ya Rasullullah. Dalam doa bathin, Subhanallah, sekonyong-konyong dari jendela bis arah sebelah kiri &#8230; saya menyaksikan bayangan sekelompok orang bergamis dan bersurban khas orang arab beriringan mengendarai onta ke arah Madinah di tengah gurun pasir yangg luas seolah tanpa tepi. Bayangan tersbut muncul kurang lebih 30 detik dan kemudain hilang berganti dengan gunung batu sepanjang perjalanan.</p>
<p>Batin meyakini sebagai ‘bayangan’ rombongan Rasullullah SAW  takkala hijrah ke Madinah 1400 tahun yang lalu. Ya, saat ini sangatlah jarang orang Arab bepergian degan onta. Allah SWT menampakkan gambaran masa lalu walau sekejab. Mufahan bukan hallusinasi. Amin. Saya menyadari inilah keajaiban yangg ditunjukkan kepada hambanya yang “mengganang” Rasullullah SAW.</p>
<p>Setiba di Madinah, sebelum turun dari bis dalam hati kecil berkata: “Yaa Allah, bagaimanakah gambaran mesjid Nabawi takkala Rasullullah masih hidup? Subhanallah. Tiba-tiba pemandangan kota Madinah yang penuh degan bangunan gedung besar dan bertingkat sirna berganti padang pasir luas dan mesjid kecil beratapkan daun kurma berdiri degan anggunnya. Mesjid Nabawi pada jaman Rasullullah. Saya tersentak seraya mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang membuka hijab dan menunjukkan rahasinya.</p>
<p>Dari kedua ‘keajiban’ yang Allah SWT perlihatkan, lebih merasakan bagaimana kehidupan Rasullullah SAW. Setiap jengkal tanah di Madinah pernah Rasulullah lalui adalah Madina yang dulu sehingga pada setiap langkah kaki merasakan suasana kebatinan, berada di jejak-jejak Rasullullah. Setiap menghirup udara Madinah karena udara Madinah adalah udara yang pernah dihirup Rasulullah. Baghkan, debu Madinah adalah debu Rasulullah.</p>
<p>Madinah adalah gambaran pribadi kekasih Allah yang memang amat dicintai, kekasih Allah SWT. Allahu Akbar &#8230; Allahu Akbar &#8230; Yaa Rasullullah. Hambamu datang di kampungmu, di mesjidmu, rumahmu, dapurmu, makammu,  mihrabmu, mimbarmu, musyafmu. Beri kami syafaat di Yaumil akhir, ya Rasulullah, Ya Allah Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Saya pun diberi keajaiban Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT. Ketika beziarah ke makam Rasullullah SAW, seorang tua bergamis putih, berjubah hitam, bersurban putih, berjanggut putih lebat, bertongkat kayu memandu ziarah. Seorang kakek dengan wajah berwibawa dan tatapan penuh kasih membimbing langkah demi langkah dengan telaten.</p>
<p>Allah Maha Besar. Takkala menuju Mekkah barulah terpikir, siapa gerangan yang membimbing kami? Saya berniat, apabila diperjalankan lagi ke Mesjid Nabawi, akan mencari kakek tua tersebut, memastikan gerangan. Wallahu Subhanahu wataa’la A’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/08/buku-bersama-2010-01/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nyaman Menikmati Tugas Menulis (9.7)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/08/nyaman-menikmati-tugas-menulis-97/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/08/nyaman-menikmati-tugas-menulis-97/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 16:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sikap kita menghadapi tugas? Banyak cara. Dalam kaitan menulis, sebaiknya dilakukan dengan senang, riang gembira. Setidaknya, berusaha menyenanginya. Cara lain? Tidak usah dipikirkan. Sebab, tugas adalah kewajiban yang harus dilakukan. Titik.
Prinsip tersebut memang tidak bisa diamini semua orang. Ada seorang yang sharing menulis ketika diberi ‘tugas’ menulis minimal satu tulisan dalam sehari, selama satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana sikap kita menghadapi tugas? Banyak cara. Dalam kaitan menulis, sebaiknya dilakukan dengan senang, riang gembira. Setidaknya, berusaha menyenanginya. Cara lain? Tidak usah dipikirkan. Sebab, tugas adalah kewajiban yang harus dilakukan. Titik.</p>
<p>Prinsip tersebut memang tidak bisa diamini semua orang. Ada seorang yang sharing menulis ketika diberi ‘tugas’ menulis minimal satu tulisan dalam sehari, selama satu bulan tidak boleh abai, marah-marah ketika dicoret sebagai anggota sharing. Apa pasal?<span id="more-1367"></span></p>
<p>Pada hari ke lima dia tidak menyerahkan tulisan, yang harus dikoreksi, dan tentu dierbaiki, dengan alasan ini-itu. Yang saya perlukan tulisan terbarunya untuk dikoreksi, bukan alasan. Ketika ‘diceramahi’, ya itu tadi, dia marah-marah.</p>
<p>Saya tidak dapat berbuat apa-apa. Yang hendak sharing menulis dia, saya dapat tambahan kerja, gratis pula. Kok dia yang marah. Belakangan malah menjelek-jelekan. Aneh.</p>
<p>Menulis, dalam arti melakukan, sejatinya pekerjaan mandiri, pekerjaan merdeka. Kalau lagi mau menulis, ya menulis saja. Bebas. Kalau lagi enggan, jangan diakukan. Siapa paksa?</p>
<p>Tapi, kalau sharing, apalagi ikut pelatihan, lain lagi ceritanya. Lagi pula, siapa yang memaksa ikut? Diri sendiri. Ya, harus ikut aturan.</p>
<p>Saat ini beban kerja menulis pada puncaknya. Ya, tugas kuliah, tugas menulis kontrak, dan ‘ambisi’ memenuhi persiapan buku untuk tahun 2010. Ibarat kata, siang-malam menulis melulu. Wong yang mau diri sendiri.</p>
<p>Dari pagi, memahami buku Comparative Research: Approaches and Methods yang dieditori Mark, Bon Adamson dan Mar Mason, terbitkan Comparative Education Research Centre, The University of Hongkong, 2007. Buku setebal 443 halaman merupakan kumpulan 16 (enam belas) artikel yang menyajikan berbagai artikel sesuai keahlian masing-masing penulis dari studi yang mereka lakukan. Berat memang.</p>
<p>Alhamdulilah, karena tugas ya dilakukan. Saya punya target, subuh nanti selesai. Besok membuat power point karena akan dipresentasikan hari Sabtu. Lelah, capek, bosan, atau muak? Entahlah. Saya hanya ingin menyelesaikan.</p>
<p>Barangkali, menyenangi menulis, atau setidaknya berusaha menyenagi tugas itulah yang ‘menyelamatkan’. Namanya saja mahasiswa. Kalau tidak dilakukan, yang rugi diri sendiri. Lagi pula ini ‘pelatihan’.</p>
<p>Latihan membaca, memahami; meringkas, mengolah, menganalisis, dan berujung mempresentasikan. Menulis itu belajar, membelajarkan diri. Itu kata kucinya.</p>
<p>Degan kata lain, melatih menulis dengan menulis. Mencintai tugas bisa jadi berarti mencintai diri. Mengeluh atau beralasan barangkali tidak cocok bagi yang berkeinginan menulis. Senangi. Nyamankan.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/08/nyaman-menikmati-tugas-menulis-97/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Menuai Nyaman (9.6)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/07/menulis-menuai-nyaman-96/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/07/menulis-menuai-nyaman-96/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 16:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1366</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mengikuti kuliah S2 di Bandung tempo hari, mendidik beberapa mahasiwa menulis. Ketika membuka Materpamur Agency, pengelolaan dipercayakan kepada mreka dimana kami bermarkas, Asrama Surau Awak, Jalan Sersan Badjuri Nomor 8, Bandung. Hidup dari honor menulis dan agen media. Bersama Aswir, membangun ERAS FC &#8212;Ersis dan Aswir &#8212;perintis photokopi di Bandung utara. Dosen-dosen UPI ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mengikuti kuliah S2 di Bandung tempo hari, mendidik beberapa mahasiwa menulis. Ketika membuka Materpamur Agency, pengelolaan dipercayakan kepada mreka dimana kami bermarkas, Asrama Surau Awak, Jalan Sersan Badjuri Nomor 8, Bandung. Hidup dari honor menulis dan agen media. Bersama Aswir, membangun ERAS FC &#8212;Ersis dan Aswir &#8212;perintis photokopi di Bandung utara. Dosen-dosen UPI ada yang sampai hari ini masih ‘meledek’ saya sebagai Raja Photokopi. Ada-ada saja. Lumayan membuat tertawa ngakak.</p>
<p>Satu hal, kini tidak mau berbisnis. Teman-teman pada sukses. Saya tidak boleh tergoda. Paling-paling bercerita tentang bisnis tempo dulu dengan syarat, jangan rayu berbisnis. Saya suka menceritakan bagaimana memaksa mereka pagi-pagi, jam 04.00 ke Cikapundung mengambil aneka media kepada almarhum Pak Rajab, agen besar media.<span id="more-1366"></span></p>
<p>Kami memasok koran untuk UPI (IKIP Bandung) melalui kerja sama dengan Bagian Humas. Oleh Rektor, Abdul Kadir, dan PR I, Fakry Gafar ditugaskan membuat suplemen lustrum VII IKIP Bandung. Bayaran terbesar menulis yang didapat saat itu, Rp.10 juta. Beasiswa mahasiswa pascasarjana Rp.100 ribu per bulan. Puncak prestasi jurlistik saya waktu itu.</p>
<p>Ya, saya merambah Bandung, menjalin persahabatan dengan banyak orang melalui jalan menulis. Saya bekerka di HU Pelita Perwakilan Jawa Barat. Menulis dan bisnis. Kali ini diam-diam ke Bandung untuk S3. Tapi, gara-gara postingan terus-menerus di FB dan Blog, kehadiran tercium. Mudahan tekad untuk fokus kuliah terpelihara. Banyak teman sukses bisnis rumah makan. Ada yang di percetakan. Adalah Kenedy, yang yang menjemput ke kos hari ini dan menolong menerbitakn buku-buku saya.</p>
<p>Dibawahlah saya ke bos besar, Benny Ilman, pemilik penerbitan besar Bandung. Yap, disepakati sebagai distributor buku-buku untuk Kalimantan. Bachruddin telah siap di Banjarmasin dan sudah disambungkan ke Gramedia Duta Mall dan Gramedia Veteran. Saya tidak ikut-ikutan.</p>
<p>Saya minta satu hal, terbitkan buk-buku saya. Untuk Desember 2009 diterbitkan tiga buku dan Januari 2009 tiga buku. Kalau soal makan uang saya nampaknya tidak laku. Kenedy yang mentraktir. Ini anak, sejak semua punya semangat hidup, tahan banting. Dia merasakan ‘kejamnya’ saya. Ampun.</p>
<p>Dalam pada itu, Fidly Yarda, pemilik CV Yasuba Dwi Perkasa, bergabung setelah serah terima perehaban FPMIPA UPI. Melalui PT Adikarya Adyatama, dia mengerjakan proyek jalan Setiabudhi-Sukajadi menambal yang rusak-rusak. Total 1,5 km di spot dari 2,5 km. Kontraknya Rp.1,7 M. Saya dibawa melihat proyek. Sukses kawan.</p>
<p>Setelah diantar ke kos, jadi merenung sembari bersyukur. Teman-teman sukses. Ada rencana kami reunian. Edy Saputra yang tengah merampungkan Disertasi, kemarin ke kos sembari menghubungan dengan Ari yang sukses di bisnis rumah makan. Duh, asyiknya.</p>
<p>Satu hal, mereka mengakui saya ‘suhu’ menulis he he he. Ada-ada saja. Di kantor Benny, Buah Batu Bandung, saya diberi tujuh nomor majalah ‘Titian Kaba’ yang berhenti terbit. Waduh, obsesi menerbitkan majalah nasional dihentak.</p>
<p>Di mobil, Kenedy bercerita panjang lebar. Kalaulah tergoda bisnis, melanjutkan penerbitan majalah, mungkin sesuatu yang susah di tolak. Ya Allah Yang Maha Tahu. Berilah hamba petunjuk. Hamba berkehendak menyelesaikan S3 dengan cantik. Amin.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/07/menulis-menuai-nyaman-96/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Berkawan Nyaman (9.5)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/06/menulis-berkawan-nyaman-95/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/06/menulis-berkawan-nyaman-95/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 16:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1365</guid>
		<description><![CDATA[Lingkup kehidupan saya hanya level lokal di Kalimantan Selatan. Coba ketik kata Ersis Warmansyah Abbas, Paman Google mencatat puluhan ribu. Hebat juga. Saya tidak tahu. Erwin D. Nugroho, Bos JPPN, yang menyuruh mengetik semisal: ‘Teori Menulis’, nah ‘Menulis Tanpa Berguru’ peringkat atas. Dan, banyak lagi. Oh begitu kiranya. Saya tergolong gaptek.
Lagi pula, hal-hal sedemikian, jangankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lingkup kehidupan saya hanya level lokal di Kalimantan Selatan. Coba ketik kata Ersis Warmansyah Abbas, Paman Google mencatat puluhan ribu. Hebat juga. Saya tidak tahu. Erwin D. Nugroho, Bos JPPN, yang menyuruh mengetik semisal: ‘Teori Menulis’, nah ‘Menulis Tanpa Berguru’ peringkat atas. Dan, banyak lagi. Oh begitu kiranya. Saya tergolong gaptek.</p>
<p>Lagi pula, hal-hal sedemikian, jangankan dibangakan, wong paham saja tidak. Tetapi, satu hal, ternyata dengan menulis melempangkan jalan untuk berkawan.<span id="more-1365"></span></p>
<p>Kalau makan di restoran, sudah bukan hal baru lagi: ‘Pak sudah dibayar. Bapak yang berbaju dinas yang membayarkan’. Aneh saja, kenal saja tidak kok mentraktir. Tapi, begitulah nasib penulis. Belum lagi diberi kemudahan untuk banyak hal. Menyenangkan.</p>
<p>Bagi yang berpikir ngatif:: “Nyata saja, kalau tidak dibayarkan, nanti Anda tulis kejelekkannya”. Ya, Allah SWT menciptakan Malaikat, juga Iblis. Iblis yang memandang sesuatu negatif, berniat jelek, agar semua masuk neraka.</p>
<p>Hmm &#8230; bukan sombong, dari walikota sampai Gubernur, bercanda dengan mereka hal biasa saja. Contoh SMS Gubernur: “Sis &#8230; Aku lapar. Kita makanan di Cendrawasih &#8230; Sudah dimana?”. Seaslinya disalin. Erwin pernah menulis: Ersis menulis apa adanya. Pengalamn pribadi dengan orang lain sekalipun. Padahal, belum tentu orag itu suka ditulis.</p>
<p>Entahlah. Saya bukan ‘orang baik’. Setelah dipikir-pikir, kritikan Bambang Subiyakto benar adanya. Saya bicara suka-suka saja. Mau marah kek, mau cemberut, sebodoh. Masyak harus menyenang-nyenagkan. Bicara apa yang dipikirkan, sesuai pendapat saya. Agak mengoreksi diri setelah mengikuti ESQ Training. Ary Ginanjar menekankan: Kecerdasan sosial. Berarti, saya dungu sosial selama ini he he.</p>
<p>Sudahlah. Kalau dipikir-pikir, lalu kenapa pejabat sampai penguasa mau berteman? Bicara tidak bagus, body language apa lagi. Kalau kesal ya kesal saja, ngak suka, bilang tidak suka. Ringkas saja.</p>
<p>Saya jarang memuji, apalagi pejabat. Tapi, kalau memuji, ya memang pantas dipuji. Jangankan mereka, dengan Dekan FKIP atau Rektor Unlam, atasan saya, kalau tidak setuju bilang saja tidak setuju. Mau berdua, saat rapat, atau pada acara resmi, sama saja. Bagaiaana kalau tidak disukai? Urusan merekalah.</p>
<p>Dalam kaitan menulis, jangan-jangan ‘apa adanya’ itu yang menjadikan ‘bersahabat’ dengan banyak orang. Sementara, dengan yang sukanya hanya dipuji saja, sudah terseleksi secara alamiah sejak awal. Jadi, kalau mendapat teman memang yang pantas dijadikan sahabat.</p>
<p>Mbuh. Belum pernah menganalisisnya secara radiks. Yang pasti, menulis sampai sejauh ini membuahkan kenyamanan dalam arti persahabatan. Alhamdulillah.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/06/menulis-berkawan-nyaman-95/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Kata-Kata Menjamah Rasa (9.4)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/05/menulis-kata-kata-menjamah-rasa-94/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/05/menulis-kata-kata-menjamah-rasa-94/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 16:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1364</guid>
		<description><![CDATA[Semilir angin malam dingin-dingin sejuk. Penjara ingin membalut harap di Bandung nan mempesona. Roda hari berpacu lebih kencang. Canda anak-isteri mendenda batin, hadir dalam bayang rindu. Nun, di kaki gunung Kerinci, asal diri, Ibu-Bapak mogahan sehat walafiat. Doa dipanjatkan.
Malam makin mendaki, globalization berbungkus international education semakin menggaruk, local genius harus dipancangkan kokoh agar persada jangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semilir angin malam dingin-dingin sejuk. Penjara ingin membalut harap di Bandung nan mempesona. Roda hari berpacu lebih kencang. Canda anak-isteri mendenda batin, hadir dalam bayang rindu. Nun, di kaki gunung Kerinci, asal diri, Ibu-Bapak mogahan sehat walafiat. Doa dipanjatkan.</p>
<p>Malam makin mendaki, globalization berbungkus international education semakin menggaruk, local genius harus dipancangkan kokoh agar persada jangan di telan mentah-mentah. Duh &#8230; Mak, muatan lokal digadai English. Mau jadi apa bangsa ini. Meruwetkan pikiran menghujam rasa.<span id="more-1364"></span></p>
<p>Pisau aturan memotang rizki, mereka megasahkan kilat pedang, bukan untuk mereka. Mata dipaksa, tangan diminta, pikiran didera, pelatihan demi negara. Mereka tertawa terbahak-bahak membagi korma, menjulur lidah: “Rasain loe, siapa suruh sekolah”.</p>
<p>Dunia ini misteri, nasib ini, bukan Allah SWT lagi yang menentukan, mereka-mereka menyiksa dengan mesra. Bumbu-bumbu logika ala pembenar mengirim duka. Dasar durjana.</p>
<p>Duh Gusti ya Allah. Maafkan mereka. Serakah bukanlah fitrah, rantai kuasa memesona, biarkanlah nikmat dikecap, mereka akan tahu: Kekuasaan bukanlah segala.</p>
<p>KasihMu Asmaul Husna tidak mudah dicerna. Angin masa akan berkhabar, keserakahan mudahan bertukar doa berbuah doa nenelur rasa dalam cinta sesama.</p>
<p>Malam semakin mendaki. Doa-doa mengiring duka menuai suka lampaui puncak-puncak menara gema menaik ke ArasyMu, ya Yang Maha Kuasa. Tiada dosa dalam duka, tiada kata kalau tak bermakna. Kehidupan adalah pembelajaran.</p>
<p>Malam ini bintang-bintang nun di sana krdipkan cahaya, panggil-panggil gema surga, berjalan di BumiMu jalankan hadiahkan celaka. Setiap yang ada adalah keadaan labuhan cinta sempurna tentang ada dan tiada dalam ke-adaan-Mu, ya Allah Yang Maha Sempurna.</p>
<p>Maafkan hamba Ya, Rabb, ketika telunjuk mengancung, empat jari menanda dada, &#8230; salah. Ya Allah, jangan biarkan hamba menendang pasrah, tiada apa-apa manakala apa-apa tiada. DalamMu tiada petaka.</p>
<p>Tangan ini menghapus prasangka menjauh dosa dalam kata-kata yang tak sempurna. Kau kisahkan tentang mereka yang tiada goyah dimakan kala, kisah hamba adalah buah kata, ampuni kalau tak bermakan dalam kisah perkasaMu. Ampuni ya Yang Mahapengampun. Biarlah hamba belajar kata-kata, memetik mencerna memamah adanya rona kata.</p>
<p>Ya, ya Allah. Kau lihatlah kami bersaudara, dunia maya dunia ada dalam tiada, kami yang menuju berkah, berkahMu untuk sesama.</p>
<p>Kata-kata adalah doa, kata-kata adalah makna, kata-kata adalah berkah. Kata kami adalah kami. Hati kami adalah kami, kami yang menulis kata-kata, kata-kata untuk dibaca, kata-kata menjamah rasa. Menulis kata-kata nyata adanya rasa.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/05/menulis-kata-kata-menjamah-rasa-94/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Membangun Silaturrahim (9.3)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/04/menulis-membangun-silaturrahim-93/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/04/menulis-membangun-silaturrahim-93/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 16:03:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1363</guid>
		<description><![CDATA[Membangun silturrahim mendatangkan rizki. Yaps, saya lupa, kiranya hadis atau bukan. Yang pasti, Al-Quran dan Rasulullah ‘menganjurkan’ jalinan silaturrahim. Kalau silaturrahim beres, duh nyamannya. Caranya? Banyak cara. Satu hal yang mengagumkan melalui tulisan. Maksudnya?
Jujur saja, menulis di media cetak seperti menulis buku, melempangkan jalan berteman dengan banyak orang. Mendatangkan rizki sudah pasti. Hitungannya, lebih banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membangun silturrahim mendatangkan rizki. Yaps, saya lupa, kiranya hadis atau bukan. Yang pasti, Al-Quran dan Rasulullah ‘menganjurkan’ jalinan silaturrahim. Kalau silaturrahim beres, duh nyamannya. Caranya? Banyak cara. Satu hal yang mengagumkan melalui tulisan. Maksudnya?</p>
<p>Jujur saja, menulis di media cetak seperti menulis buku, melempangkan jalan berteman dengan banyak orang. Mendatangkan rizki sudah pasti. Hitungannya, lebih banyak positifnya dari negatifnya. Hal tersebut terus melebar dalam guliran menyenangkan. Apa pasal?<span id="more-1363"></span></p>
<p>Sekitar dua tahun lalu, dikagetkan ketika memasuki wilayah blog melalui www.webersis.com. Tidak sampai setahun mendapat teman ribuan orang, komunikasi dunia maya marak, menjalin silaturrahim. Rizki mengiringi. Tidak ada sangkutan darah, atau profesi, bila ‘kopi darat’ duh nyamannya. Tidak bertatap muka, jalinan silaturrahim terkadang lebih kuat dari talian saudara. Begitu dahsyatnya jalinan silaturrahim sebagai kandungan menulis di dunia maya, blog. Mengagumkan.</p>
<p>Kemudian mucul Facebook yang lebih lincah. Jangankan melalui pertukaran artikel atau perbincangan serius untuk satu hal, dari komen-komen sambil lalu saja, rasanya begitu akrab. Luar biasa.</p>
<p>Dalam kegiatan menulis, tidak terhitung lagi ide dapat dirakit dari komentar konyol sekalipun. Begitu dahsyatnya jalian silaturrahim dari menulis. Menakjubkan.</p>
<p>Begitulah. Sejauh ini tidak menoleransi memanfaatan blog atau FB untuk menyerang seseorang, kalau secara umum dalam batas toleransi tertentu boleh jadi ya. Karena itu, tidak doyan mengunjungi atau mengomentari blog atau FB yang bermuatan hal ‘miring-miring’. Sebab, titik berangkatnya menjalin pertemanan. Pertemanan yang menyenangkan.</p>
<p>Bahwa, terutama dalam semangat memotivasi ada pihak yang terkritik, lalu marah, hal tersbut di luar maksud. Soalnya, ada yang menarik contoh umum ke wilayah pribadi. Seolah-olah yang ‘diserang’ dirinya. Terlalu PD kale. Peruntukkan umum dijadikan ‘milik pribadi’. Loba namanya.</p>
<p>Sebelumnya tidak terbayangkan, bagaimana bisa berkomunikasi dengan Suryanita di Jepang, orang sekampung yang belum pernah bersua, Kwek di Taiwan, atau Tari di Chile. Teman-teman buruh migran di Hongkong, Korena Selatan atau Amerika Serikat. Belum lagi orang cerdas di banyak kampus. Tidak terhitung. Hampir di setiap kota Nusantara saya punya teman akrab tanpa bersua. Ya, karena menulis. Tersebab ada fasilitas internet; blog dan FB. borderless world.</p>
<p>Hal-hal sedemikian sungguh menyenangkan. Alangkah tidak bijak manakala kehebatan dunia maya dijadikan ajang saling tikam. Rugi. Ekspresikan diri, jalin silaturrahim. Bila ada senggolan, maafkan. Senangkan diri, senangkan teman-teman, rubah musuh menjadi teman dalam damainya komunikasi. Mari bercanda sembari membangun kompetensi menulis. Menulis menyenangkan.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/04/menulis-membangun-silaturrahim-93/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis, Plong &#8230; Alamaaaaak (9.2)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/03/menulis-plong-alamaaaaak-92/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/03/menulis-plong-alamaaaaak-92/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 03:02:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1362</guid>
		<description><![CDATA[Banyak hal dibaca. Dari yang remeh-temeh sampai serius. Membaca tabloid dengan sajian bisa menggelikan sampai buku tentang Ibnu Rusyid yang begitu serius. Apalagi di ruang kuliah, dari wejangan dosen sampai diskusi saling adu argumen. Hmm &#8230; Keinchi Ohmae boleh saja membahas percaturan dalam The Borderless World dengan peringatannya. Dalam tarikan Indonesia, harus berbenah diri.
Betapa dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak hal dibaca. Dari yang remeh-temeh sampai serius. Membaca tabloid dengan sajian bisa menggelikan sampai buku tentang Ibnu Rusyid yang begitu serius. Apalagi di ruang kuliah, dari wejangan dosen sampai diskusi saling adu argumen. Hmm &#8230; Keinchi Ohmae boleh saja membahas percaturan dalam The Borderless World dengan peringatannya. Dalam tarikan Indonesia, harus berbenah diri.</p>
<p>Betapa dalam kehidupan ini, banyak yang diinginkan, yan baik-baik semua. Tapi, kehidupan menyata lain. Hidup ini adalah perjuangan. Ada tantangan, ada kekecewaan, ada kesedihan, ada pula kesuksesan atau kegembiraan. Campur aduk. Kita harus tetap hidup.<span id="more-1362"></span></p>
<p>Tangan beraksi, hidung mencium, mata melihat, telinga mendengar, apa saja yang dapat dijangkau. Semua ini saling berdesak meminta tempat di memori otak. Ada yang disimpan, dibiarkan lewat, atau ditolak. Macam-macam.</p>
<p>Otak kita, bisa pula ranah rasa, digempur ragam hal tiap saat. Mana pula dari dalam diri, aneka keinginan saling berebut minta direalisasikan. Diapakan? Terserah masing-masing kita punya diri.</p>
<p>Ada yang mengeluarkannya melalui kepiawaian bicara, kalau tidak tertanggung berteriak histeris. Konon, apa yang bergejolak tersebut, kalau tidak dikeluarkan bisa bikin hang, nenbuta stres, atau apalah namanya. Puncaknya gila.</p>
<p>Wahai pembaca yang Budiman. Tidak salah bukan manakala disalurkan dengan menulis? Tentu, apa-apa yang dipikirkan, apa-apa yang dirasakan, apa-apa yang dimaui, tidak layak begitu saja dikeluarkan begitu adanya. Ada filter, ada pertimbangan. Terjadi lagi pergulatan dalam diri. Ya, begitulah seharusnya.</p>
<p>Hasil pergulaatn diri, manakala menjelma menjadi tulisan &#8230; duh nyamannya. Plong. Terserah, mau dijadikan catatan pribadi atau dipubliaksian, soal pilihan saja. Yang penting, begitu ‘sesuatu’ menjadi tulisan, pikiran nyaman, perasaan enak, badan ‘ringan’. Pernakah mengalami hal serupa? Kalau ya, menulis adalah jalan bagi kesehatan jiwa dan raga. Dalam hidup ini yang dicari, satu dintaranya, kenyamanan. Kalau menulis ‘memberi’ kenyamanan kenapa dihindari?</p>
<p>Bagi saya, itulah yang dirasakan begitu selesai menulis. Kalau begitu, menulis itu egois ya, demi kenyamanan diri sendiri. Bisa jadi. Tetapi, bukankah kalau orang lain dapat pula merasakan kemanfaatannya positif adanya.</p>
<p>Ya, menulis dapat jadi terapi diri. Minimal mengurangi beban pikiran, hantaman perasaan, atau menjinakkan ingin yang mungkin tidak terealisasikan. Menulis mendatangkan senang. Karena itu mari jadikan hal menyenangkan.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/03/menulis-plong-alamaaaaak-92/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Menyenangkan (9.1)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/02/menulis-menyenangkan-91/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/02/menulis-menyenangkan-91/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 16:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1361</guid>
		<description><![CDATA[Menulis menyenangkan.
Kalau tidak, mana mungkin ada penulis begitu produktif. Setidaknya dijadikan hal menyenangkan.
Mari jadikan menulis menyenangkan?
Mari sharing menyenangkan.
PRDUKTIF. Membaca tulisan Rivai Marlaut di harian Haluan Padang atau Abu Hanifah pada majalah Kiblat ketika semasa mengikuti Sekolah Dasar sungguh membuai. Trkadang tidak sabar menunggu Bapak membaca. Bahasan masalah luar negeri kedua penulis tersebut sangat ditunggu. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis menyenangkan.<br />
Kalau tidak, mana mungkin ada penulis begitu produktif. Setidaknya dijadikan hal menyenangkan.<br />
Mari jadikan menulis menyenangkan?<br />
Mari sharing menyenangkan.</p>
<p>PRDUKTIF. Membaca tulisan Rivai Marlaut di harian Haluan Padang atau Abu Hanifah pada majalah Kiblat ketika semasa mengikuti Sekolah Dasar sungguh membuai. Trkadang tidak sabar menunggu Bapak membaca. Bahasan masalah luar negeri kedua penulis tersebut sangat ditunggu. Ada saja yang mereka tulis, menarik, dan membelajarkan.</p>
<p>Sunggguh. Betapa menyenangakan kalau bisa seperti mereka, atau betapa menyenangkan mereka menulis. Setelah kuliah, membaca lebih serius, belajar menulis dengan menulis. Ternyata, &#8230; memang menyenangkan. Bukan saja berlabuh dipikiran, atau ranah rasa, pada relasi sosial pun mengirim kenyamanan. Menulis memang menyenangkan.Silakan menikmati pada Bab IX ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/02/menulis-menyenangkan-91/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak &#8216;Contoh&#8217; Abstrak (8.10)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/02/01/dijebak-contoh-abstrak-810/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/02/01/dijebak-contoh-abstrak-810/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1360</guid>
		<description><![CDATA[Hampir dipastikan, banyak orang membaca apa yang tertulis, membaca tulisan, tetapi sedikit orang yang menuliskan apa yang dibaca. Hampir dipastikan, setiap orang memikirkan banyak hal, namun sedikit yang menuliskannya pikirannya. Jutaan orang terpingkal-pingkal membaca bacaan bermuatan kelucuan atau menitikkan air mata manakala membaca tulisan berkesedihan, tetapi tidak banyak yang menuliskan ketika disapa senang atau saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir dipastikan, banyak orang membaca apa yang tertulis, membaca tulisan, tetapi sedikit orang yang menuliskan apa yang dibaca. Hampir dipastikan, setiap orang memikirkan banyak hal, namun sedikit yang menuliskannya pikirannya. Jutaan orang terpingkal-pingkal membaca bacaan bermuatan kelucuan atau menitikkan air mata manakala membaca tulisan berkesedihan, tetapi tidak banyak yang menuliskan ketika disapa senang atau saat didenda sedih.</p>
<p>Jutaan guru atau dosen, bisa jadi memotivasi berjuta-juta anak didiknya untuk menulis, namun sungguh sangat sedikit guru atau dosen memberi contoh dengan karya tulisnya. Berceramah lebih dipilih dibanding memberi contoh karya nyata: “Ini lho contoh karya bagus, tulisan gurumu”. Mencontohkan dengan tataran ‘dongeng’ memang lebih mudah dibanding hasil perbuatan.<span id="more-1360"></span></p>
<p>Seperti pula, banyak penatar memberi kriteria, arahan, rambu-rambu atau apalah namannya, hanya saja tidak banyak yang memberi contoh dengan praktik, apalagi hasil praktik. Ya, pada akhirnya, kegemaran ‘mendongeng’, mendongengkan hal-hal bagus akan bersarang di pikiran banyak orang, dan melahirkan ahli-ahli teori.</p>
<p>Coba lempangkan pandangan. Tidak mungkinlah bangsa ini tidak mampu membuat jarum untuk tambatan benang untuk sekadar melengketkan kacing baju. Faktanya, jarum-jarum tesebut berlabel, made in China. Sama halnya, beberapa dasa warsa terakhir, Indonesia memasuki masa emas penanganan pertanian. Pada kenyataannya, kita mengimpor beras, kedelai, dari durian sampai paha ayam. Entahlah. Ada belenggu something wrong.</p>
<p>Begitu pula, pada awalnya saya juga lupa, kenapa terjerambab memotivasi banyak orang menulis. Melihat beberapa orang mahasiswa saya yang berkeinginan menulis, memberi pencerahan. Lalu, sharing menulis bergulir begitu saja. Semakin hari semakin melebar. Memprihatinkan, sadar diri kenapa menulis kok dikesankan begitu sulit. Sebaliknya merasakan mengalir begitu saja.</p>
<p>Dengan kata lain, saya menulis apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan selevelnya. Tidak lebih. Kemudian berusaha membaca ini-itu, bertanya pada banyak orang tentang persepsi, apa yang dilakukan, kenapa sulit dan berbagai hal tentang menulis. Apa kesimpulanya?</p>
<p>Menulis melakukan. Teori, hal-hal ideal, atau keinginan kesempurnaan adalah ‘jalan’ bagi menulis. Menulis itu melakukan. Bukankah kita tahu tulisan seseorang melalui tulisannya. Kita bisa menikmati atau muntah membaca tulisan seseorang setelah menjadi tulisan.</p>
<p>Nah, dalam memasihkan menulis, terutama bagi pemula, berarti melakukan. Jangan terjerat dengan hal-hal ideal, itu hal abstrak yang susah ‘dikunjungi’. Berbeda dengan menulis atau hasil tulisan. Yang pertama melakukan, berupa aktivitas, yang kedua hasil aktivitas, berupa tulisan.</p>
<p>Saya pikir, setelah menulis terbiasa, bahasa lainnya, pada tataran standar, mari mengarah ke hal ideal. Bagaimanapun saya adalah ‘anak bangsa’ yang berkeinginan menulis sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti, apalagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit. Produksi buku kita kalah dari Vietnan yang baru kemarin sore ke luar dari perang dahsyat. Mari menulis apa adanya, sesuai kemampuan. Karakanlah, belajar, dan berlatih. Mangga.</p>
<p>Bagaiamana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/02/01/dijebak-contoh-abstrak-810/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
