<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Menulis Tanpa Berguru</title>
	<atom:link href="http://www.webersis.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://webersis.com</link>
	<description>Ersis Writing Theory (EWT): Menulis Ala Posmodernis</description>
	<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 16:23:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Motivasi Menulis Buku &#8230; (Mengerikan?) (3.8)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/10/motivasi-menulis-buku-mengerikan-39/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/10/motivasi-menulis-buku-mengerikan-39/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 16:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[menu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[Selama aktivitas menulis, hal paling ‘mengerikan’ yang pernah dialami ketika ‘dipanggil’ panitia ad hock Senat Fakultas FIKP Unlam Banjarmasin. Menulis di media cetak memberi masukan agar kampus bersih, atmosfir akademik ditingkatkan, warganya menulis, dan untuk dosen adalah meja dan kursi individual. Masyak kalah dengan fasilitas guru TK. Ini institusi negara lho. Ahmad Sofyan, Dekan FKIP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama aktivitas menulis, hal paling ‘mengerikan’ yang pernah dialami ketika ‘dipanggil’ panitia ad hock Senat Fakultas FIKP Unlam Banjarmasin. Menulis di media cetak memberi masukan agar kampus bersih, atmosfir akademik ditingkatkan, warganya menulis, dan untuk dosen adalah meja dan kursi individual. Masyak kalah dengan fasilitas guru TK. Ini institusi negara lho. Ahmad Sofyan, Dekan FKIP Unlam sekarang, utusan khusus fakultas pada panitia adhock tersebut. Apakah ‘one lecture one chair’ menjadi? Ha ha &#8230; rumput bergoyang.<span id="more-1400"></span></p>
<p>Saya belajar. Hati-hati menulis. Bukan memupuk marah atau kesal. Itu merugikan diri. Semakin rajin menulis. Ada orang yang memandang menulis, mempersoalkan bukan esensinya, tapi bunga-bunganya. Tidak mudah memang memahami tulisan. Karena itu memilih belajar dengan menulis.</p>
<p>Gagasan menulis buku ‘Bersama 2010’ bukan tanpa risiko. Saya menduga akan kehilangan sekian teman dunia maya. Ketika www.webersis.com berkibar bergenre kampanye menulis kunjungan memasuki wilyah peak season. Lalu?</p>
<p>Karena tergirang dengan respon, tibalah saatnya menulis. Ada keinginan dari lubuk hati, saatnya teman-teman menulis dalam artian dijadikan buku. Beberapa buku dan antologi puisi ditulis dan diterbitkan. Tetapi, tidak sebanding dengan jumlah peaktif komunitas. Kira-kira 2,5%. Efeknya yang tidak elok. Kehilangannya banyak teman. Lho?</p>
<p>Dari situlah bermula istilah Raja Akan, Raja Alasan. Rupanya, mereka yang ‘kelihatannya’ bersemangat, begitu masuk wilayah menulis dalam artian melakukan, pada keleler. Namanya juga Ersis, ditagih: Mana tulisannya Mas? Mana tulisannya Mbak? Ada saja alasannya.</p>
<p>Malahan ketika diminta menulis hal sederhana semisal: Kenapa saya menulis? Ditulisannya tentang Penyerbuan Amerika Serikat ke Afganistan. Ada yang tentang Rasulullah. Jauh amat berkilahnya. Nah, karena diburu terus dia marah. Bayangkan, kemarahannya dijalarkan pada orang lain, dan menuduh macam-macam, dari mencari popularitas sampai mengaruk uang. Apa hubungannya?</p>
<p>Saya sengaja menulis ini dengan maksud, agar ‘Jamaah Fesbukiyah’ tidak usahlah mengusung ‘curigation’. Pada FB EWA sudah ditulis ratusan postingan, dan jika digabung dengan www.weberis.com barangkali bisa ribuan tentang menuilis mudah. Memotivasi menulis. Entah kenapa, senang saja kalau orang menulis. Tapi, bukan memaksa lho. Nah, menurut saya banyak tulisan bagus-bagus. Saatnya menulis buku.</p>
<p>Jadi, kalau ada yang berkilah, dan atau nantinya menjadi marah karena ‘diburu’, maafkan saya. Hanya saja, kalau boleh memilih, lebih memilih sepuluh teman yang menulis, dibanding ribuan yang pintar berceloteh dalam tulisan remeh-temah. Mari menulis, mari perkuat silaturrahim dengan menulis. Banyak memaafkan lebih baik. Salam Menulis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/10/motivasi-menulis-buku-mengerikan-39/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku: Babu &#8230; (3.7)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/09/menulis-buku-babu-37/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/09/menulis-buku-babu-37/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 16:21:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[Buku ‘Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen’ (2008) diterbitkan GAMA MEDIA Jogja diangkat dari lomba menulis www. webersis.com dan www.menulismudah.com. Seorang wartawan dari Malang, mahasiswa dari Banjarmasin, dan dari Bogor, mendapat hadiah Rp.1.000.000,00, Rp.750.000,00 dan Rp.500.000,00. Kumpulan tulisan tersebut dibukukan. Bagian judul “Babu” mendapat perhatian. Babu (buruh) Indonesia di Hongkong menjadi pemenang.
Saya teramat kagum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buku ‘Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen’ (2008) diterbitkan GAMA MEDIA Jogja diangkat dari lomba menulis www. webersis.com dan www.menulismudah.com. Seorang wartawan dari Malang, mahasiswa dari Banjarmasin, dan dari Bogor, mendapat hadiah Rp.1.000.000,00, Rp.750.000,00 dan Rp.500.000,00. Kumpulan tulisan tersebut dibukukan. Bagian judul “Babu” mendapat perhatian. Babu (buruh) Indonesia di Hongkong menjadi pemenang.</p>
<p>Saya teramat kagum, dan faktanya banyak babu yang nimbrung sebagai ‘Jamaah Fesbukiayah’ setelah sebelumnya ‘teracuni’ virus menulis EWT melalui www.webersis.com. Awalnya, dengan teman-teman didiskusikan pemakaian pilihan istilah, babu, buruh, migran, pekerja devisa, atau apa begitu, ah &#8230; pilihan akhirnya babu.<span id="more-1399"></span></p>
<p>Banyak orang memandang sebelah mata profesi tersebut. Saya memandang sebagai pejuang sejati. Mereka berani mengambil risiko, dan dalam menulis ‘berani melakukan’. Tidak beralasan. Istilah kerennya, nekad menulis.</p>
<p>Berani mengadu nasib di negeri orang, cerminan tekad sekalipun dengan risiko besar. Mereka yang berpendidikan tinggi justru banyak mengeluhnya. Inilah-itulah. Hidup ini tantangan, yang diperkuat kok keluhan atau alasan. Damai Ayu Mindar, begitu dia mengaku punya nama, muncul ke permukaan sebagai ‘Jamaah Fesbukiyah’. Dari Taiwan.</p>
<p>Mengaku tidak punya laptop, menulis lewat HP, dan maaf didelet. Sebab, ‘Buku Bersama 2010’ adalah implementasi penyebaran visrus menulis yang harus diposting di FB masing-masing dan ditag ke FB EWA. Damai, karena bersemangat, memakai pinjam FB Latifah Abd Al Qahhar.</p>
<p>Ada keberpihakkan emosional terhadap mereka yang berkendala menulis. Biasanya mengeluarkan kemampuan ‘meluruskannya’. Saya mendedikasikan diri untuk mereka yang mau berbuat, dalam menulis, dan tidak menyukai para pembual, sekalipun bukan hendak menyakiti mereka.</p>
<p>Alhamdulillah. Seperti kenekadan mengadakan lomba dan menerbitkan buku bagi pemula tempo hari, seorang teman dari Jakarta mendanai untuk merealisasikannya. Alumnus sentuhan EWT angkatan 2007-2008 telah banyak menerbitkan buku. Mereka yang tidak berkilah atau beralasan.</p>
<p>Babu? Ya, Babu mampu menulis. Bagaimana mereka yang bekerja sehari-hari dengan segala kerumitannya mau dan mampu menulis, dan ikut lomba yang temanya ditentukan. Mersepon tema itu intinya melatih kecepatan menulis.</p>
<p>Susah dibayangkan mahasiswa yang lebih berkesempatan, mereka yang bekerja, PNS, atau selevel , kalah semangat dari babu. By the way, yang saya pelajari, mereka tidak mengeluh, beralasan. Keterbatasan dijadikan ajang perjuangan. Jadi ingat sirah Rasulullah yang dari kecil berjuang. Allah SWT bisa saja memudahkan. Tapi, begitulah sebagai petunjuk bagi manusia.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/09/menulis-buku-babu-37/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gubernur dan Inspirasi Menulis Buku (3.6)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/08/gubernur-dan-inspirasi-menulis-buku-36/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/08/gubernur-dan-inspirasi-menulis-buku-36/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 01:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1398</guid>
		<description><![CDATA[Komentar Gubernur Kalimantan Selatan pada FB EWA sebenarnya bukan hal baru. Pak Gubernur yang fecebooker tersebut disamping teman maya, adalah teman darat sejak lama. Saya ikut diskusi berbagai hal dalam ‘komunitas’ inbox, bahkan sebelum ke Bandung, di kolam saya, kami mengadakan Temu Faceboker yang digagas teman-teman facebooker Kalimantan Selatan.
Kalau diceritakan pertemanan, wuih panjang ceritanya. Ringkasnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komentar Gubernur Kalimantan Selatan pada FB EWA sebenarnya bukan hal baru. Pak Gubernur yang fecebooker tersebut disamping teman maya, adalah teman darat sejak lama. Saya ikut diskusi berbagai hal dalam ‘komunitas’ inbox, bahkan sebelum ke Bandung, di kolam saya, kami mengadakan Temu Faceboker yang digagas teman-teman facebooker Kalimantan Selatan.</p>
<p>Kalau diceritakan pertemanan, wuih panjang ceritanya. Ringkasnya, ketika dipercaya meneliti dan menulis Sejarah Kabupaten Banjar, saat itu dia sebagai Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Banjar, dipinjami rumah dinas untuk kantor, mobil untuk waktu lama. Lalu, dia menjadi Bupati Kabupaten Banjar, lanjut Gubernur, dan kini ‘berjuang’ untuk keduakalinya menjadi Gubernur Kalimantan Selatan.</p>
<p>Kali ini, postingan pertama FB EWA tahun 2010, Pak Gubernur, Rudy Ariffin yang mengomentari. Makasih Pak Gub. Sekalipun menjabat gubernur, orangnya mau saja berteman dengan berbagai kalangan. Di FB dia sering dipuji dan juga dikritik. Biasa-biasa saja. Saya hapal gayanya.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, pantas dibuat biografinya. Padahal tidak ada masalah. Bahan lengkap, kesempatan apalagi. Hanya saja, kurang asyik saja. Soalnya nanti dikira untuk kampanye. Jadi, berkesimpulan, setelah Pilkada saja. Mau terpilih atau tidak, akan membuat biografinya.<span id="more-1398"></span></p>
<p>Satu-satunya buku berbau biografi yang saya buat tahun 2009 buku “Untukmu Banjarbaru” tentang Rudy Resnawan yang walikota Banjarbaru dan calon wakil Gubernur Kalimantan Selatan berpasangan dengan Rudy Ariffin. Kalau yang terakhir, susah sudah menceritkan persahabatn kami.</p>
<p>Untung pula, pilkada yang digelar tahun 2010 membebaskan saya dari ‘bergabung’, sebab bersekolah. Tentu, memprioritaskan program doktoral lebih bermakna. Mana tahu, entah siapa gubernya, apa yang saya pelajari bermanfaat untuk Banua, sebutan kami untuk Kalimantan Selatan.</p>
<p>Saya tidak membawa pembaca ke wacana politik atau pertemanan, tetapi dalam kaitan menulis buku, picuannya bisa sangat sederhana. Gara-gara Pak Gubernur &#8212;secara kebetulan&#8212; mengomentari postingan FB EWA. Dengan kata lain, apabila di pikiran sudah ada hal untuk ditulis yang diperlukan pantikan. Sekondan saya langsung dminta mengumpulkan bahan sebagai pelengkap bahan yang saya tumpuk sejak 10 tahun lalu.</p>
<p>Bisa saja, ketika kita kecil, bersekolah, atau apa begitu tertarik untuk menulis buku. Karena berbagai hal, dari bahan sampai aneka keterbatas hingga tidak menjadi, ketika saatnya tepat momennya pas, akan mudah. Ibaratanya, kalau kita punya banyak tulisan, belum dijadikan buku tidak apa-apa. tetapi, begitu keinginan menguasai kehendak, karena bahannya ada tinggal dibenahi.</p>
<p>Hal tersebut berbeda jauh dari akan, akan, dan akan menulis. Menulis saja. Kalau tulisan sudah ada tinggal menambah-kurang, menganti, atau memperkuat ‘otot’ tulisan. Kepada ‘Pasukan Khusus’ yang saya bina, ditanamkan: Saya tidak peduli kalian mau bekerja dimana dan sebagai apa. Berlatih menulis, membuka peluang menjadi wartawan, penulis, peneliti, atau apa. Dengan mempunyai kemampuan, bukan terjeremab menjadi pengangguran, tetapi mampu memilih pekerjaan paling sesuai. Kalau tidak berketerampilan, tidak berkemampuan apa-apa, wajar menjadi penganggur.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/08/gubernur-dan-inspirasi-menulis-buku-36/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Menulis Buku &#8230; 2010 (3.5)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/07/inspirasi-menulis-buku-2010-35/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/07/inspirasi-menulis-buku-2010-35/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 16:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[Ada pertanyaan ringan: Menulis atau ikut pesta pora merayakan Tahun Baru 2010? Pilihan jatuh, menulis. Untuk pemantapan lanjutan penyebaran virus menulis, Tahun 2010 menyediakan ruang bagi facebooker, ‘Jamaah Fesbukiyah’, menulis ‘Antologi Puisi’ dan ‘Buku Bersama 2010’. Kalau puisi optimislah, tapi tulisan (artikel) pesimistis susah dibuang.
Minimal menjadi pembuktian mereka yang selama ini seolah bersemangat menulis dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pertanyaan ringan: Menulis atau ikut pesta pora merayakan Tahun Baru 2010? Pilihan jatuh, menulis. Untuk pemantapan lanjutan penyebaran virus menulis, Tahun 2010 menyediakan ruang bagi facebooker, ‘Jamaah Fesbukiyah’, menulis ‘Antologi Puisi’ dan ‘Buku Bersama 2010’. Kalau puisi optimislah, tapi tulisan (artikel) pesimistis susah dibuang.</p>
<p>Minimal menjadi pembuktian mereka yang selama ini seolah bersemangat menulis dengan untaian kata-kata membuai, apakah benar-benar mau menulis atau berwacana? Kenyataan akan memperlihatkan, para pesharing, mau menulis atau menjadi Raja wacana, Raja Bual? Berwacana, diskusi doang, bisa mengindentifikasi diri seolah hebat, tanpa bukti. Menulis, langsung terlihat. Orang pengecut, takut pada bukti dan yang disediakan segerobak alasan.<span id="more-1397"></span></p>
<p>Entah kenapa, saya terobsesi, mengemuka penulis-penulis handal 5-10 tahun ke depan. Hati tertusuk-tusuk, Vietnam yang baru ‘kemarin sore’ merdeka produk tahunan bukunya lebih banyak dari Indonesia yang berpenduduk 240 juta? Memalukan. Nenek moyang kita unggul di dunia dalam ilmu dan pengetahuan. Buku hebat, Borobudur dan Prambanan dibangun. Bangsa lain ada yang masih hidup di gua-gua. Kini jadi bulanan-bulanan. Produk pikiran digadaikan pada hasil pikir asing. Sepakbola sudah dikalahkan Laos, tinggal menunggu dihajar Timor Leste. Memalukan.</p>
<p>Ya, sebagai antisipasi, kalau ‘Gerakan Jamaah fesbukiyah’ melakukan menulis gagal &#8212;maaf sekali lagi, saking takut ditukar aneka alasan&#8212; disamping menulis buku-buku seperti biasanya menambahkan satu agenda, menulis semacam ‘Buku Pintar’. Dalam renungan Malam Tahun Baru digoda buku Iwan Gayo, ya kenapa ide sukses tersebut tidak dikembangkan? Bahan-bahannya tentu tidak sulit.</p>
<p>Dengan kata lain, pada bulan Januari 2010 sudah dapat dipastikan, begitu proyek ‘Buku Bersama 2010’, dianggap gagal, tergelincir dimakan alasan, langsung mengumpulkan bahan dan memulai menulis “Buku Pintar”. Saya punya keyakinan, gagal pada satu sisi berarti menimbun sukses di sisi lain. Kini, bola di tangan ‘Jamaah Fesbukiyah’.</p>
<p>Mana tahu ide awal tahun 2010 merupakan jalan bagi pelempangan aktivitas dan hasilan buku lebih bermakna. Tidak ada kejadian apa pun yang sia-sia selama maknanya diraup.</p>
<p>Menulis melakukan. Bukan angan-angan, diskusi, atau sekadar wacana. Menulis, kalau dibiasakan mengutip atau mengangungkan karya orang lain, tanpa diimbangi perbuatan sendiri, berarti melupakan menulis dari dalam diri, dan nyaman bagi Raja Alasan. Ersis Writing Theory dibangun atas dasar mengembangkan potensi menulis. Karena itu, akan susah diterima bagi Raja Alasan, untuk menuliskan pikirannya. Meminjam lebih mudah dari memproduksi. Hmmm.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/07/inspirasi-menulis-buku-2010-35/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku Bareng (3.4)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/06/menulis-buku-bareng-34/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/06/menulis-buku-bareng-34/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 16:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[Setelah melaunching www.webersis.com mendapatkan teman sharing menulis yang susah dihitung, dan kini FB EWA lebih dahsyat. Berbagai sangkaan bermuculan, mulai dari kerjaan saya menulis melulu sampai ‘menggurui’. Banyak yang mengapresiasi, ada pula yang memaki. Baca saja apa yang mereka tulis. Terus saja menulis. Sebodoh.
Hidup dan kehidupan padat aneka aktivitas. Jangankan menerbitkan buku, mengurus tugas kuliah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah melaunching www.webersis.com mendapatkan teman sharing menulis yang susah dihitung, dan kini FB EWA lebih dahsyat. Berbagai sangkaan bermuculan, mulai dari kerjaan saya menulis melulu sampai ‘menggurui’. Banyak yang mengapresiasi, ada pula yang memaki. Baca saja apa yang mereka tulis. Terus saja menulis. Sebodoh.</p>
<p>Hidup dan kehidupan padat aneka aktivitas. Jangankan menerbitkan buku, mengurus tugas kuliah saja, kalau tidak bisa memenej waktu, bisa gila. Agak memahami makna Surah Al Asyr, waktu dimanfaatkan. Alhamdulillah, melalui latihan terus-menerus, kalau ada orang menulis artikel sederhana memakan waktu sehari malah heran. Lama amat. Menulis satu artikel lebih 15 menit, dah mencaci diri sendiri.<span id="more-1396"></span></p>
<p>Dalam pada itu, penasaran dengan komentar ratusan orang, yang menyimak FB EWA lengkap dengan komen yahud-yahud. Terkadang, merasa bangga menularkan virus menulis. Ada manfaatnyalah. Puluhan orang sharing melalui berbagai sarana. Sejauh dapat dilayani, kenapa tidak?</p>
<p>Mengintip tulisan para penulis pemula, duh bangganya. Setiap berkunjung, ada saja kehebatan yang dipindai. Muncul tanya, lalu diapakan? Banyak yang bingung mepublikasikan. Ya, sudah. Muncul inspirasi menulis Buku Bersama. Tidak ada guru, yang lebih hebat atau apa, pokoknya kalau ada tulisan masuk, untuk Buku Bersama, diperiksa, diedit. Berlaku sama buat semua.</p>
<p>Saya juga ingin membuktikan, apakah mereka menang serius menulis? Kalau ya, tentu akan menjajal dengan mengirim (tag) tulisan ke FB EWA. Aturannya sederthana, tidak ribet, tidak memberatkan. Tapi satu hal, tulisan harus sesuai dengan tema harian. Kalau tidak? Didiskualifikasi.</p>
<p>Konsekuensinya, membaca sekian banyak tulisan &#8212;kaya ada saja yang mampu menerima tantangan&#8212;mengedit, melayout, dan menerbitkan. Jangan-jangan, ongkos terbitnya nanti dibiayai sendiri he he. Tidak usah dipikirkan, bukan sekali ini hal sedemikian dilakukan. Anggap saja demi menunjang ‘melahirkan’ penulis-penulis handal, penulis baru. Mana tahu jadi ladang amal.</p>
<p>Kepada calon penuli “Buku Bersama 2010” &#8212;bukan 2012 lho&#8212; mohon kepahamannya sejak awal. Saya meluangkan waktu dermi kita semua, Jamaah Fesbukiyah. Beri saya kebanggan dengan hasil buku. Tidak usah pakai diskusi, seminar menulis, atau pelatihan segala macam. Tidak usah keluar biaya. Langsung menulis, dan langsung kita bukukan. Tapi, terkadang memang orang tidak suka dengan kemudahan.</p>
<p>Ada pepatah, kalau ada cara bersusah paya, berdarah-darah, kenapa memilih jalan mudah? Kalau perlu yang memudahkan jalan dianggap gila, dipertanyakan maksud baiknya. Ah, masih dominankah yang berpikir gaya iblis tersebut? Mudahan tidak.</p>
<p>Yaps, mari kibarkan tahun 2010 sebagai “Tahun Menulis”. Buktikan dengan menulis “Buku Bersama 2010”. Berani menerima tantangan?</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/06/menulis-buku-bareng-34/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Liang Gie: Penulis Serba Bisa (3.3)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/05/the-liang-gie-penulis-serba-bisa-33/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/05/the-liang-gie-penulis-serba-bisa-33/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 16:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1395</guid>
		<description><![CDATA[Kebutuhan akan buku beragam sebabnya. Yang pasti, sejak lama melatih diri untuk tidak meminjam buku. Karena kebutuhan buku saat ini sangat banyak dan beragam, prioritas membeli buku terbitan terbaru. Adakalanya tergoda buku-buku tertentu. Misal, ketika ke Palasari berburu buku untuk beking ujian akhir semester 2009 ‘menemukan’ buku Pengantar Filsafat Ilmu (The Liang Gie) dan buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebutuhan akan buku beragam sebabnya. Yang pasti, sejak lama melatih diri untuk tidak meminjam buku. Karena kebutuhan buku saat ini sangat banyak dan beragam, prioritas membeli buku terbitan terbaru. Adakalanya tergoda buku-buku tertentu. Misal, ketika ke Palasari berburu buku untuk beking ujian akhir semester 2009 ‘menemukan’ buku Pengantar Filsafat Ilmu (The Liang Gie) dan buku Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942 (Deliar Noer).</p>
<p>The Liang Gie adalah penulis yang mengangetkan masa muda, bisa menulis begitu banyak dan beragam buku. Kiranya bidang apa saja bisa ditulisnya. Hebat dia. Rupanya, di alam bawah sadar dia termasuk yang menginspirasi menulis (buku). OK Gie, Insya Allah tahun-tahun ke depan mulai menulis beragam buku. Amin.<span id="more-1395"></span></p>
<p>Deliar Noer, orang Padang yang keras itu, satu dari sekian penulis serius kesukaan. Seorang teman menghadiahi otobigrafinya, Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa setebal 10032 halaman. Terasyik membacanya. Saya belum pernah ke Medan dan merasa berada di Medan seperti juga seolah menjadi orang yang tidak disukai Mendikbud. Begitu ‘hidup’ dan detail. Mantan Rektor IKIP Jakarta tersebut membuai dengan tulisannya sembari mengambarkan situasi kuliahnya di Australia atau di Amerika Serikat. Dari kecil Noer memang orang berpendirian teguh.</p>
<p>The Lin Gie bisa menulis menulis buku berbagai bidang, pastilah dia pembaca yang bagus, dan berkemauan melakukan menulis buku, bukan meluluhkan diri membaca atau belajar teori menulis buku. Sekali lagi, menulis buku. Ya, sekali lagi, The Lian Gie (melakukan) menulis buku.</p>
<p>Bacaan saya bisa jadi tidak sebanyak Gie, pengalaman baru secuil, tetapi yang namanya inspirasi datang dari mana saja. Dulu, ketika belenggu keterbatasan begitu kejamnya, tidak dapat berbuat apa-apa. Inspirasi dimatangkan sesuai kondisi obyektif kehidupan. Rupanya matang sendiri he he he.</p>
<p>Alhamdulillah sedikit dapat meniru keteguhan Deliar Noer. Lingkungan kehidupan memang bukan lahan subur bagi dunia kepenulisan. Allah Maha Besar, dapat melalui tahapan paling keji dunia kepenulisan; apa saja yang ditulis ‘dimarahi’ orang-orang tententu. Tetap nekad belajar dan belajar menulis. Membangun kompetensi menulis memerlukan keteguhan sikap, dan, inspirasi dari orang lain. Jangan pernah berhenti pada satu etape, betapapun bengisnya. Salam Menulis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/05/the-liang-gie-penulis-serba-bisa-33/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur, Menulis, dan Buku (3.2)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/04/gus-dur-menulis-dan-buku-32/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/04/gus-dur-menulis-dan-buku-32/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 01:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1394</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya hari ini agak lelah. Malam kemaren tidur setelah subuh. Bangun, pukul 07.00, merampungkan proposal disertasi, tugas mata kuliah Penelitian Pendidikan Lanjut. Pukul 12.00 ke kampus menyerahkan. Kepala Perencanaan Unlam Banjarmasin menelepon dan kami berdiskusi sampai sore di kos saya. Anak-anak ke kebun binatang. Sehabis magrib membaca Al-Quran yang baru dibeli. Doakan. Menargetkan membaca Al-Quran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebetulnya hari ini agak lelah. Malam kemaren tidur setelah subuh. Bangun, pukul 07.00, merampungkan proposal disertasi, tugas mata kuliah Penelitian Pendidikan Lanjut. Pukul 12.00 ke kampus menyerahkan. Kepala Perencanaan Unlam Banjarmasin menelepon dan kami berdiskusi sampai sore di kos saya. Anak-anak ke kebun binatang. Sehabis magrib membaca Al-Quran yang baru dibeli. Doakan. Menargetkan membaca Al-Quran sebagai ‘pendingin’ menulis.<span id="more-1394"></span></p>
<p>Kami bersegera ke Chihampelas Walking (Ciwalk). Makan malam di Raa Cha Restauran, masakan Thailand. Anak-anak doyan makan disitu, sambi bamasakan jar. Lalu menonton band. Meriques lagu Hello Lionel Richie. Penyanyi yang suaranya sangat bagus, tidak hapal lagu favorit saya tersebut. Anak-anak ke arena permainan.</p>
<p>Kami pacaran, saya dan istri, sambil menikmati band. Antra, anak tertua kami menelepon dari Banjarmasin. Gus Dur, meninggal. Innalillahi wainnailaihi rajiun.</p>
<p>Saya pengangum Gus Dur untuk satu hal, menulis. Dulu, pernah membaca, Gus Dur mampir ke Kompas, memakai mesin tik Kompas, tak tik tuk, satu jaman tulisannya selesai, dan besok Kompas memuatnya. Saya paling suka kalau dia mengulas sepakbola. Bisa jadi bahan renungan atau tertawa sepuasnya. Sendiri. Hebat dia. Gus Dur jago menulis.</p>
<p>Hal tersebut membekas. Untuk itu memperbanyak membaca. Konon, Gus Dur gila baca. Tidak peduli apa bahannya, pokoknya membaca. Ketika terbiasa menulis, wui &#8230; punya rekor sendiri, 9 menit untuk satu artikel.</p>
<p>Sebagai penghormatan terhadap Gus Dur, sembari teriring doa, bab 2 buku ini bermula sebagai doa buat Gus Dur. Semoga Allah SWT melipatgandakan amalnya, dan memaafkan kesalahannya. Semoga artikel ini bermanfaat, menginspirasi bermuatan kemanfaatan, dan dengan kesengajaan, semoga menjadi amal buat Gus Dur. Amin.</p>
<p>Begitulah pembaca. Menulis buku itu tidak harus dalam rancangan khusus. Buku-buku saya situasional. Perjalanan kehidupan dimuatkan apa yang ditulis. Simak serial menulis, selalu berkaitan dengan aktivitas harian. Hingga, menulisnya mudah. Tidak perlu ke pustaka, tidak harus merenung, membuat outline atau mendiskusikan bertahun-tahun. Apalagi, pakai ‘gelar niat’ segala.</p>
<p>Apa yang dilakukan, dan atau, dipikirkan lansgung ditulis tanpa harus bersusah-payah. Sehari bisa dua atau tiga tulisan, dan dalam sebulan, kalau mau, bisa jadi buku. Tidak ribet. Wong hal sedehana saja kok.</p>
<p>Kalau sempat membaca, beberapa bulan kemudian, bisa mereview kejadian pada hari menulis tulisan tersebut. Ai &#8230; kiranya menulis buku bak menulis diari. Mudah Bro.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/04/gus-dur-menulis-dan-buku-32/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku, Mudah Bro (3.1)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/03/menulis-buku-mudah-bro-21/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/03/menulis-buku-mudah-bro-21/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 01:12:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1393</guid>
		<description><![CDATA[Menulis buku lebih mudah dari ‘menulis biasa’.
Menulis disertasi, atau buku utuh tentu lain ceritanya.
Menulis biasa, menulis seadanya, sebisanya.
Tulis dalam bentuk artikel atau kolom, kumpulkan.
Jadikan buku.
BUKUKAN. Menulis buku paling mudah berawal dari ‘menulis biasa’. Istilah saya untuk menulis biasa, menulis artikel, kolam, opini, atau apalah namanya. Tulis ‘utuh’ dalam tulisan singkat lalu kumpulkan, dan diselesksi. Hasilnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis buku lebih mudah dari ‘menulis biasa’.<br />
Menulis disertasi, atau buku utuh tentu lain ceritanya.<br />
Menulis biasa, menulis seadanya, sebisanya.<br />
Tulis dalam bentuk artikel atau kolom, kumpulkan.<br />
Jadikan buku.</p>
<p>BUKUKAN. Menulis buku paling mudah berawal dari ‘menulis biasa’. Istilah saya untuk menulis biasa, menulis artikel, kolam, opini, atau apalah namanya. Tulis ‘utuh’ dalam tulisan singkat lalu kumpulkan, dan diselesksi. Hasilnya buku. Buku seperti itu dinamakan bunga rampai atau kumpulan karangan. Bisa rombongan bisa sendiri.</p>
<p>Saya merevolusi dengan tema tetap. Menulis tentang menulis terus menerus. Menulis dalam format buku. Setelah ditulis, dalam format buku, dipublis. Bisa untuk facebook, blog, atau media cetak. Tulisan mengikuti pola yang ditentukan. Itulah yang saya istilahkan, menulis buku sekadar membuat Kata Pengantar dan Daftar Isi. Ngak percaya? Ikutin serial tulisan pada bab ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/03/menulis-buku-mudah-bro-21/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menghormati Alat (2.10)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/02/menghormati-alat-210/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/02/menghormati-alat-210/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 01:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1392</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali memposting gambar meja kerja di Blog dan FB. Ada dua desktop dan dua laptop. Saya menggunakan satu komputer untuk keperluan menulis sesuai peruntukkannya. Wow &#8230; sok orang kaya. Terserah. Konsekuensinya, tidak punya pakaian memadai, tidak mampu membeli mobil baru, atau hidup berpoya-poya. Kegembiraan kalau mampu membeli buku atau peralatan menulis yang bagus. Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu kali memposting gambar meja kerja di Blog dan FB. Ada dua desktop dan dua laptop. Saya menggunakan satu komputer untuk keperluan menulis sesuai peruntukkannya. Wow &#8230; sok orang kaya. Terserah. Konsekuensinya, tidak punya pakaian memadai, tidak mampu membeli mobil baru, atau hidup berpoya-poya. Kegembiraan kalau mampu membeli buku atau peralatan menulis yang bagus. Pada kondisi tertentu, destop dan laptop keluaran terbaru dengan spesikasi tinggi.</p>
<p>Selalu tersedia dua printer, satu warna dan satu printer berkecepatan tinggi. Saya pengemar HP LaserJet, dimulai dari LaserJet 5l sampai seri seribuan. Tidak ketinggalan scanner. Apalagi yang namanya lem Fox, penggaris besi sampai hal terkecil. Untuk apa?<span id="more-1392"></span></p>
<p>Kalau lagi ‘gila’ membuat buku sampai dammy, naskah contoh. Padahal begitu menjadi dammy terbiar begitu saja. Ada kalanya sampai setahun, bahkan ada dammy yang sampai tiga tahun tergeletak begitu saja. Adalah Syaharuddin, mahasiwa saya &#8212;kini jadi dosen&#8212; yang kalau ke rumah suka merazia dan diselesaaikannya secara adat. Tidak percaya?</p>
<p>Jangankan hal ‘tidak penting’ tersebut. Saya pegawai negeri, dosen di PTN. Hal paling malas mengurus kenaikkan pangkat. Saya mengikuti beragam seminar dan diklat, bahkan pemakalah dan pemateri sudah hal lumrah. Penelitian juga tidak kurang-kurang karena punya kerja sama dengan banyak instansi. Kemitraan dengan PT Djarum kudus dan Asia Foundation pun dilakoni. Pengabdian masyarakat tercukupi. Artikel di media cetak apalagi. Mengajar rutin. Semua itu berkategori cum, satuan untuk naik pangkat. Nah, yang mengumpulkannya ya Pak Syaharuddin Arofah.</p>
<p>Dalam konteks menulis buku, yang ingin saya tekankan, kalau berbicara akan menulis, bertekad menulis buku, maaf, bagi saya tidak menarik. Lain halnya telah menulis buku dan tinggal selangkah lagi mengirimkannya ke penerbit. Jadi, keinginan saja tidak sah. Berbeda kalau melakukan.</p>
<p>Destop dan laptop saya, kalau disigi memuat banyak bahan buku. Tinggal dipilah-pilih, jadilah buku. Berbeda dengan akan menulis. Maksudnya begini, menulis sajalah dulu. Kalau tulisannya sudah ada, mau diapakan terserah. Mau didiskusikan, mau dicocokan dengan teori, mau ditambah-kurangi, mau dikirim ke penerbit, atau dibakar, suka-suka. Sudah ada ‘calon’ bukunya.</p>
<p>Berbeda tentu dengan akan. Akan menulis, akan menulis buku, tapi tidak melakukan. Ya, kapan punya buku. Karena itu, kepada yang sharing selalu saya tekankan, jangan pernah berdikusi dengan saya kalau sebatas ‘akan’.</p>
<p>Begini saja, ‘ading’ saya Ric0 Hasym menulis puisi panjang. Dia kirim lewat inbox FB, lima menit kemudian dia sudah membaca editan saya. Atau Ma’aruf menulis tentang pasar dengan centrang-prenang, saya edit dalam 10 menit, dikirim ulang. Kini, perhatikan tulisan mereka. Setahun lagi saya tidak apa-apa dibanding mereka.</p>
<p>Atau, ada seorang jago menulis di dunia maya, Hanna Fransiska namanya. Dulu, geli membaca tulisan pertamanya. Kini, saya ‘iri’ begitu bagusnya dia menulis puisi dan artikel. Saya menjadikan mereka-mereka ‘alat’ untuk memotivasi. Dengan kata lain, alat dalam artian sesungguhnya perlu mendukung aktivitas menulis (buku). Alat lain dapat digerakkan dalam memotivasi diri.</p>
<p>Dus, alat sesungguh dalam menulis buku, diri kita.</p>
<p>Bagaimana Menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/02/menghormati-alat-210/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku Disemangati Keluarga (2.9)</title>
		<link>http://webersis.com/2010/03/01/menulis-buku-disemangati-keluarga-29/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/03/01/menulis-buku-disemangati-keluarga-29/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 03:58:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 29 Desember 2009, saya membawa anak-anak ke Bandung Book Center, Palasari, Bandung. Saya membeli 20 buku. Anak-anak bersorak keheranan, buku-buku bapaknya terpajang di rak buku. Ada kebanggaan, gimana gitu, menikmati ekspresi buah hati. Dalam hati berdoa: Ya Allah, lempangkanlah jalan agar anak-anakku lebih bagus menulis (buku)”. Amin.
Semasa di Banjarbaru, naskah buku pertama dibaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, 29 Desember 2009, saya membawa anak-anak ke Bandung Book Center, Palasari, Bandung. Saya membeli 20 buku. Anak-anak bersorak keheranan, buku-buku bapaknya terpajang di rak buku. Ada kebanggaan, gimana gitu, menikmati ekspresi buah hati. Dalam hati berdoa: Ya Allah, lempangkanlah jalan agar anak-anakku lebih bagus menulis (buku)”. Amin.</p>
<p>Semasa di Banjarbaru, naskah buku pertama dibaca istri, dan anak-anak dengan cara mereka masing-masing. Senjata istri, pulpen merah menyala. Bagi saya, setelah diorat-arit urusan selesai.<span id="more-1391"></span></p>
<p>Biasanya Hakim atau siapa begitu memperbaiki pada naskah di desktop. Adakalanya diberikan kepada teman lain untuk dikoreksi. Lebih sering, dikirm ke penerbit. Bagaimana salah ketik sampai salah eja? Itu urusan penerbit.</p>
<p>Berpikir ringkas saja. Tugas saya menulis, bukan mengoreksi. Masyak semua pekerjaan mau diborong. Serakah namanya. Pak, menulis itu kan tidak boleh salah. Ya, begitu teorinya. Saya mempraktikkan tidak demikian.</p>
<p>Sering begitu selesai ditulis dibiarkan saja. Saya punya keyakinan, tulisan itulah yang membela dirinya. Kalau memang bagus, memoles disana-sini urusan yang berkompeten. Kalau di media cetak, urusan editor artikel opini. Kalau di penerbit pekerjaan editor bahasa. Prinsipnya, jangan salah konsep atau logika. Dengan demikian kelajuan menulis tidak terhambat.</p>
<p>Menulis, walau terkadang istri sebal juga, sebab ada saja tulisan baru, dijadikan sarana berkomunikasi. Terkadang bermanja-manja. Yang paling disenangi, sembari mengoreksi, atau disela-selanya, istri mengaruk-garuk punggung. Anak-anak mengurut kepala atau menginjak-nginjak kaki sampai pantat. Duh nikmatnya. Kalu sudah demikian, menulisnya lebih ganas. Menulis melibatkan keluarga. Ternyata, sangat memotivasi.</p>
<p>Ketika kuliah di Bandung, lain lagi ceritanya. Rindu pada keluarga tidak tertanggungkan. Malahan menargetkan produksi buku dua kali lipat. Kenapa?</p>
<p>Menulis membuang risau, menghilangkan rindu, atau hal-hal kurang baik. Makanya aneh kalau orang bicara harus fokus menulis. Saya melatih diri dengan varian kegiatan lain. Mendengar musik, nonton sepakbola, atau main porker. Saya punya 10 akun Texas Holdem Porker. Begitu menulis, fokus. Potensi yang lain kan perlu juga dilayani.</p>
<p>Dengan kata lain, kalau berkeinginan menulis, menulis buku, sadari diri, libatkan keluarga, jangan asyik sendiri. Saking bersemangatnya, kalau ada teman-teman ke kos dimotivasi, tidak perduli di enngan menulis atau berkehendak. Pokoknya kampanye, menyebarluaskan virus menulis.</p>
<p>Lagi pual, pola atersebut dengan cepat mendeteksi kekurangan-kekurangan, dan bisa langsung diperbaik. Mau menulis buku? Ayo, pekerjaan sederhana saja.</p>
<p>Bagaimana Menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/03/01/menulis-buku-disemangati-keluarga-29/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
