<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Menulis Tanpa Berguru</title>
	<atom:link href="http://www.webersis.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://webersis.com</link>
	<description>Ersis Writing Theory (EWT): Menulis Ala Posmodernis</description>
	<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 14:07:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Duh &#8230; Poker</title>
		<link>http://webersis.com/2009/07/03/duh-poker/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/07/03/duh-poker/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 13:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1191</guid>
		<description><![CDATA[
ASYIK. Suatu kali, ketika ke tempat seorang teman disulang: “Berlai-kali mengudang Sampeyan main poker kok tidak ditanggapi sih?” Nah, lho. Memang saya paham main porker.  Mengingat jadual kerja, naga-naganya susah untuk ikut yang begituan. Tapi, setuju kita perlu ‘santai’, atau bersenang-senang. Apa pun medianya.
Suatu kali, ketika ke tempat teman ditawari: “Pak, begini cara main poker. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://i80.photobucket.com/albums/j163/ersis/untitled.jpg" alt="" width="500" height="388" /></p>
<p>ASYIK. Suatu kali, ketika ke tempat seorang teman disulang: “Berlai-kali mengudang Sampeyan main poker kok tidak ditanggapi sih?” Nah, lho. Memang saya paham main porker.  Mengingat jadual kerja, naga-naganya susah untuk ikut yang begituan. Tapi, setuju kita perlu ‘santai’, atau bersenang-senang. Apa pun medianya.</p>
<p>Suatu kali, ketika ke tempat teman ditawari: “Pak, begini cara main poker. Peragaannya mantap. Isterinya nyelutuk: “Jangan mau Pak, nanti lupa waktu. Bisa sampai pagi, lupa waktu. Istri pun tidak dipedulikan”. Teman saya nyengir saja ketawa ‘hambar’. Apa iya?<span id="more-1191"></span></p>
<p>Kamis, 2 Juli 2009. Sehabis acara yasinan di komplek, dan kebetulan dua mahasiswa menginap di rumah saya mengerjakan ‘proyek’ yang harus diselesaikan secepatnya. Itu dia. Saya yakin mereka ‘ahli’ poker. Lho?</p>
<p>Di taman kampus, biasanya begitu, begitu saya duduk di meja bundar, ada beberapa mahasiswa menutup layar laptop menukar dengan aplikasi lain, semisal google. Hmmm &#8230; penasaran deh. Asyik main poker.</p>
<p>Saya hanya bisa menasehati: “Mas, kalau main tidfak perlu sembunyi-sembunyi. Laptop laptop lu, waktu eaktu loe, kesenangan kesenangan Loe. Asal &#8230; tugas perkuliahan jangan pernah terabai”. Saya pun harus menguji diri.</p>
<p>Pelajaran kilat di tempat teman 15 menit ditambah bimbingan mahasiswa &#8230; malam itu tidak menjadikan pintar main porker.  Jumat, 3 Juli 2009, sehabis dari kampus, selesai Jumatan, kembali mengerjakan ‘proyek’. Sekitar jam 15.00 mulai main poker sembari menulis artikel. Ternyata susah. Permainannya cepat.</p>
<p>Biasanya, mengetik digandeng, dengar musik, nonton TV, main FB, atau nonton bola. Main poker perlu konsentrasi. Terjun saja sekalian. Tiga jam penuh. Alhasil, chips saya sampai seratusribuan. Asyik?</p>
<p>Cukup mengasyikkan. Sekaligus, membosankan. Mata berkunang-kunang, pinggang pegal, dan tulisan hanya satu yang jadi. Saya membayangkan mahasiswa yang kecanduan porker. Memang sih, ‘modal’ diberi oleh ‘penmyelenggara’, tetapi bagaimana dengan waktu? Melupakan istri? Ah, bodoh amat kalau demikian.</p>
<p>Saya tak hendak menganjurkan mahasiswa, seperti kepada dua mahasiswa ‘guru poker’, agar tidak berpoker-pokeran. Silakan saja, asal tugas utama jangan terganggu. Selama untuk refreshing, pasti ada manfaatnya. Tapi, kalau ‘mabuk’, lain lagi ceritanya.</p>
<p>Hidup ini tidak usah disusah-susahkan. Hidup ini pilihan. Hidup ini menjalani apa yang dimaui. Hidup ini mudah-mudahan diisi dengan hal-hal positif.</p>
<p>Bagaiman menurut Sampeyan?</p>
<p>Banjarbaru, 3 Juli 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/07/03/duh-poker/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Alam Milik Allah SWT</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/29/nikman-alam-milik-allah-awt/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/29/nikman-alam-milik-allah-awt/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 06:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1190</guid>
		<description><![CDATA[MY KAMPOONG. Terseralah, orang mau menilai apa dan bagaimana, bila pulang ke Muaralabuh, saya suka mandi di sungai. Istri, anak-anak, dan ponakan rupanya juga  senang. Jadilah, bila pagi, begitu juga sore, ke sungai yang masih bersuasana alami. Sembur-semburan, cekikik-cekukuk, berdendang air, yang kata istri sedingin es.
Pada puncaknya, merasakan bahwa ‘kenikmatan’ tidak perlu dibayar mahal. Bahkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://i80.photobucket.com/albums/j163/ersis/Suliki1.jpg" alt="" width="300" height="400" />MY KAMPOONG. Terseralah, orang mau menilai apa dan bagaimana, bila pulang ke Muaralabuh, saya suka mandi di sungai. Istri, anak-anak, dan ponakan rupanya juga  senang. Jadilah, bila pagi, begitu juga sore, ke sungai yang masih bersuasana alami. Sembur-semburan, cekikik-cekukuk, berdendang air, yang kata istri sedingin es.</p>
<p>Pada puncaknya, merasakan bahwa ‘kenikmatan’ tidak perlu dibayar mahal. Bahkan, berkelana dari hotel ke hotel, mandi di bathup, dibanding di alam terbuka, tidak sebanding. Atau, inikah yang dinamakan orang rindu kembali ke kehidupan kanak-kanak? Entahlah.</p>
<p>Ringkasnya, Muaralabuh negeri yang dikelilingi hutan lebat, di kaki gunung Kerinci, tempat beta lahir, bak mangkok alami. Menbedah ranah Sungai Pagu mengalir batang (kali, sungai) Suliki.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://i80.photobucket.com/albums/j163/ersis/suliki3.jpg" alt="" />Dulu, ketika masih kecil sungainya sangat deras. Saya tidak perlu ke hilir, di Singintir aliran sungai Suliki dapat dinikmati sepuasnya. Kini, air mulai menyurut. Saya bilang sama Bapak: Pak, rasonyo kini Mualab (Muaralabuh) paneh”. Bapak, lelaki Adam berusia90 tahun menjawab: “Baitulah. Alam kini lah barubah”. Yap, sepanas-panasnya Muaralabuh, lebih dingin dari Bandung yang kini kian panas. Ah, sudahlah. Nikmati saja.</p>
<p>Satu hal yang selalu ditekankan pada anak saya yang beranjak remaja: “Antra perhatikan, hutan masih lebat. Garansi kesejukkan. Begitu di Bukit Tnggi, Maninjau, Lembah Anai, atau Muaralabuh”. Sebagai Bapak, saya ingin Antra menjadi pejuang pelestraian alam. Mimpi kale ye.</p>
<p>Pagi itu, mentari mulai menyeruak mengintip membedah kabut pagi. Badan dijalari air pegunungan. Rasa nyaman mengerayangi seluruh tubuh. Mula-mula terasa dingin, semakin menyelam semakin nyaman, sungguh nikmat. Duh Allah, ampuni hambaMu yang terlanjur dengan nafsunya merusak alam Tanda-Tanda KebesaranMu. Jangan biarkan kami merusak limpahan nikmatMu.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://i80.photobucket.com/albums/j163/ersis/Suliki2.jpg" alt="" width="300" height="400" />Cahaya mentari menembus pohon-pohon yang setia di pingir sungai. Menit berganti, dua jam barangkali terlalu lama untuk urusan berbersih-bersih. Setiap pulang kampung, pembelajaran Ibu dipraktikkan, kami mencuci pakaian sendiri. Kini, menurunkan pada anak-anak. Kami mencuci pakaian masing-masing.</p>
<p>Ketika Erwin Dede Nugroho saya bawa ke Muaralabuh bertanya: “Apakah pohon-pohon disini tidak ada yang berminat menebanginya?”. Saya hanya tersenyum. Sebab, konon nun jauh dibalik bukit, atas nama izin HPH penebangan terjadi. Ya Allah, halangilah siapa saja yang berniat mengunduli hutan Muaralabuh. Amin.</p>
<p>Bagaiman menurut Sampeyan?</p>
<p>Banjarbaru, 29 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/29/nikman-alam-milik-allah-awt/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda-Tanda Allah SWT</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/28/tanda-tanda-allah-swt/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/28/tanda-tanda-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 08:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1189</guid>
		<description><![CDATA[DISINI. Ketika kanak-kanak, saat kingintahuan begitu besar, kita bertanya pada Bapak, Ibu, atau Kakek: Allah ada dimana? Tidak bermuatan hakekatis, filosofis, atau theologis. Yang dierlukan jawaban sesuai kata tanya ‘dimana’. Jawaban orang tua atau kakek banyak sedikit berpengaruh pada keberpikiran dan pemahaman.
Ketika dewasa, pertanyaannya lebih mendasar. Banyak buku dibaca, berguru pada ulama, bisa jadi ‘jawaban’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DISINI. Ketika kanak-kanak, saat kingintahuan begitu besar, kita bertanya pada Bapak, Ibu, atau Kakek: Allah ada dimana? Tidak bermuatan hakekatis, filosofis, atau theologis. Yang dierlukan jawaban sesuai kata tanya ‘dimana’. Jawaban orang tua atau kakek banyak sedikit berpengaruh pada keberpikiran dan pemahaman.</p>
<p>Ketika dewasa, pertanyaannya lebih mendasar. Banyak buku dibaca, berguru pada ulama, bisa jadi ‘jawaban’ dari diri sendiri atau luar diri, belum memuaskan. Allah SWT bersemayam di Arasy? OK, begitu teks Kitabullah. Lanjutannya, Arasy itu dimana ya? Dan, seterusnya. Terkadang, begitu kurang eloknya, kalau ada keinginan mempertanyakan atau mendiskusikan hal tersebut demi keingintahuan atau pemantapan pemahaman, dianggap gimana gitu. Bukankah pada proses sedemikian amal ibadah diperdapat?<span id="more-1189"></span></p>
<p>Pernah ketika bertanya dalam memantapkan pemahaman, Allah SWT dan Malaikat di Surga, Iblis tidak mau tunduk kepada perintah Allah SWT bersujud kepada Adam, diusir. Setelah Hawa diciptakan, Adam dan Hawa tinggal di surga dengan syarat jangan memakan buah khuldi. Rupanya Adam dan Hawa tergoda rayuan Iblis, memakan buah khuldi. Tanya nalarnya, bukankah Iblis di usir dari surga? Bagaimana di menyelusup tanpa diketahui Allah dan Malaikat? Kalau SMS-an, SMS belum diciptakan. Nah, lho.</p>
<p>Pertanyaan kritis sedemikian, bisa jadi dianggap tidak wajar. Padahal, yang ditanya saja yang tidak mampu menjawab. Persis, bagaimana ya Allah SWT menciptakan batu besar, saking besarnya, Allah tidak mampu mengangkatnya. Hal-hal seperti itu, terkadang perlu untuk memuaskan keingintahuan atau memantapkan pemahaman, atau &#8230; bisa pula tidak perlu sama sekali. Tergantung kebutuhan.</p>
<p>Dan, janganlah memasuki wilayah Allah SWT. Semisal memastikan Si Anu masuk neraka, Si Ane masuk surga. Kita, hanya bisa memindai dari tanda-tanda sesuai kriteria yang diwujudkanNya. Alam raya dan segala isinya, Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT. Masalahnya, dapatkan kita memindai eksistensi dan kekuasaan Allah SWT dari hal tersebut?</p>
<p>Perjalanan liburan besama anak-anak di penghujung Juni 2009, dari danau ke danau, dari pantai ke pantai, dari bukit ke bukit, melalui darat menempuh langit, memantapkan (tanda-tanda) Allah SWT dimana-mana. Pada ciptaanNya. Dari udara yang dihirup, dari sistem pernafasan ‘tersimpan’ Tanda-TandaNya. Lalu, kenapa mencari Allah kemana-mana?</p>
<p>Pelajarannya, mulailah dari diri, hal-hal terdekat, sampai nun ke jagat raya. Disitu ada Tanda-TandaNya, dan itu cukup sebagai dasar kokoh keimanan. Kalau ingin bertemu Allah SWT, ikuti perintahnya jauhi larangannya, Insya Allah akan bertemu di Hari Kemudian.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Langt, 28 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/28/tanda-tanda-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Extreme Log</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/26/extreme-log/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/26/extreme-log/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 15:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[TAPALUH. Aprivisi dan Azta sangat terkesan menonton film 3D di arena Pekan Raya Jakarta. Entah dapat informasi dari mana, mereka menjadikan menonton film 4D di Dunia Fantasi sebagai prioritas. Rupanya anak TK dan SD punya informasi lebih dibanding dosen PTN.  Saya pun tak dapat memastikan, tayangan Extreme Log masuk kategori 4D atau tidak.
Memasuki gedung pertunjukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TAPALUH. Aprivisi dan Azta sangat terkesan menonton film 3D di arena Pekan Raya Jakarta. Entah dapat informasi dari mana, mereka menjadikan menonton film 4D di Dunia Fantasi sebagai prioritas. Rupanya anak TK dan SD punya informasi lebih dibanding dosen PTN.  Saya pun tak dapat memastikan, tayangan Extreme Log masuk kategori 4D atau tidak.</p>
<p>Memasuki gedung pertunjukkan kami melalui pagar stainless berbelok yang kalau diluruskan sepanjang satu kilo meter. Antrian berdurasi 40 menit diselamatkan pertunjukkan band di depan jalur sementara semburan pendingin menjinakan panas. Selain mendendangkan aneka lagu, ditayangkan melodi bertitel Indonesia Tahun 3000. Wuih, rupanya Indonesia seabad ke depan berkesenian campuan India-Amerika Serikat. Manusianya berjenis android. Bak kisah film Stars War.<span id="more-1188"></span></p>
<p>Pertunjukkan rancak tersebut kiranya mencerminkan budaya mencontek, bukan berkreasi. Pakaian India dengan pusar wanita ‘meresahkan’ disandingkan lagu Barat, yang hebatnya, sangat akrab di telinga. Bau kebudayaan Indonesia tidak tercium sama sekali selain lokasi pertunjukkan. Kira-kira sebanding dengan kebanggaan memakai aneka kendaraan karya negeri orang sementara otak dan perasaan tidak terusik. Pokoknya nikmati, tidak usah berpikir dan berkarya. Ibarat makan durian, durian Bangkok. Barangkali yang bisa menjawab  hanya para insinyur.</p>
<p>Memasuki gedung, bau Indonesia sempurna punahnya. Tayangan pendahuluan membosankan. Memasuki bilik kedua, tempat duduk ‘asing’ menunggu. Petugas mendengungkan beberapa resep. Harap maklum, ini film petualangan dimana ‘kita’ adalah pemain.</p>
<p>Betul saja. Awalnya kendaraan tumpangan berjalan biasa-biasa saja, masih standarlah. Lalu memasuki labirin semakin lama semakin kencang. Petualangan dikawal kayu gelondongan yang sudah susah dicari di Kalimantan dan &#8230; tiba kayu-kayu digergaji dalam jarak meteran, hancur lebur. Gergaji raksasa mengirim ngeri. Kendaran melaju dengan kecepatan suara, dan kursi semakin lincah menyatukan.</p>
<p>Visi berteriak, Azta memejamkan mata, Ibunya meringgis, dan perut saya terkocok habis. Menanjak 180 derajat, kursi mengikuti hingga tidak ada jarak antara persepsi dan petualangan, kita yang melakoni. Setelah ke angkasa dihajar tuberlanse dan buaya-buaya besar menghadang, dihindarkan atau dihajar, menyelam tanpa basah, melewati labirin dan lorong-lorong aneh. Audi sempurna menjadikan nyata. Nafas terhenti, peluh mengucur deras.</p>
<p>Sungguh sensasi luar biasa. Hanya pekikan yang menjadi pertanda, bahwa penonton masih di dunia nyata. Pkiran, rasa, imajinasi menjadi satu. Begitu film usai, tidak seorang pun yang tertawa. Penonton berbasah baju, tapaluh. Tidak percaya? Silakan Sampeyan rasakan sendiri.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Jakarta, 26 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/26/extreme-log/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tepian Senja</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/25/di-tepian-senja/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/25/di-tepian-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 15:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1187</guid>
		<description><![CDATA[Di tepian ini
hiruk-pikuk dipungut dari relung-relung
teriak tawa nada-nada kembara
menjauh dari rengutan negeri
ketika kemerdekaan berasa
Di tepian ini
bibir dataran air di sudut Pekan Betawi
sinaran menyilaukan, membutakan &#8230;ah
di bilik yang terkunyah
seyum terkubur batin-batin yang teriris
antrian bebek mengecap dunia
Di tepian ini
mentari mengirim pesan
berbgi dengan rembulan
menggapai dawai-dawai jiwa renyah
ketetentuan ditorekan
Di tepian ini
menyeruak dalam-dalam
Dia di sini di tepian ini
PRJ, 25 Juni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tepian ini<br />
hiruk-pikuk dipungut dari relung-relung<br />
teriak tawa nada-nada kembara<br />
menjauh dari rengutan negeri<br />
ketika kemerdekaan berasa</p>
<p>Di tepian ini<br />
bibir dataran air di sudut Pekan Betawi<br />
sinaran menyilaukan, membutakan &#8230;ah<br />
di bilik yang terkunyah<br />
seyum terkubur batin-batin yang teriris<br />
antrian bebek mengecap dunia</p>
<p>Di tepian ini<br />
mentari mengirim pesan<br />
berbgi dengan rembulan<br />
menggapai dawai-dawai jiwa renyah<br />
ketetentuan ditorekan</p>
<p>Di tepian ini<br />
menyeruak dalam-dalam<br />
Dia di sini di tepian ini</p>
<p>PRJ, 25 Juni 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/25/di-tepian-senja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Malin Kundang</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/24/malin-kundang/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/24/malin-kundang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 15:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1186</guid>
		<description><![CDATA[BATU. Alkisah, seorang anak muda tampan merantau ke negeri seberang. Dia gagah, pintar, dan pandai bersilat. Di negeri orang kepintaran dan keberaniannya menarik perhatian raja, dia selalu dapat menyelesaikan masalah atau memenangkan peperangan. Hingga, diangkat menjadi Panglima Perang. Tidak cukup disitu saja, Malin Kundang dijadikan menantu.
Kisah berlanjut. Malin Kundang ‘taragak jo kampuang’. Pulanglah dia bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BATU. Alkisah, seorang anak muda tampan merantau ke negeri seberang. Dia gagah, pintar, dan pandai bersilat. Di negeri orang kepintaran dan keberaniannya menarik perhatian raja, dia selalu dapat menyelesaikan masalah atau memenangkan peperangan. Hingga, diangkat menjadi Panglima Perang. Tidak cukup disitu saja, Malin Kundang dijadikan menantu.</p>
<p>Kisah berlanjut. Malin Kundang ‘taragak jo kampuang’. Pulanglah dia bersama istri dikawal anak buahnya. Waktu berbilang, hari berganti minggu, minggu bertukar bulan, bau tanah kelahiran membuncah kerinduan di dada, kapal besar Malin Kundang merapat di pelabuhan Muaro Padang. Kapal besar yang dinakhodai lelaki gagah berkuasa dengan istri sangat cantik itu adalah anak-negeri, dan sedang mencari ibunya. Berita kedatangannya segera tersebar.<span id="more-1186"></span></p>
<p>Lalu, seorang Ibu tua renta mendatangi kapal besar tersebut dibawa kerinduan kepada anak semata wayang, Maling Kundang. Ya, Malin yang sedari kecil ketika mencari kayu bakar digendong, di pangkuan. Kundang ‘gelar wisuda’  teman-teman kecil , Si Malin yang ‘kundang’; yang digendong.</p>
<p>Rupanya waktu dan kesuksesan merubahnya. Melihat ibunya yang tua rentah dimakan usia di depan istrinya yang sangat cantik, Malin tidak mengakui ibunya. Sekalipun istrinya mengakui tersebab kata-kata ibunya Si Malin punya tanda hitam (tahi lalat) di tubuhnya cocok.</p>
<p>Ringkas cerita, Si Ibu kecewa amat sangat, Malin pun ngelangsa. Berlayarlah dia kembali ke negeri rajanya. Karena hatinta sangat amat seih, Si Ibu mengutuk Si Malin, dan &#8230; badai menghempaskan kapal dengan seisinya ke bibir batu karang di bibir pantai Air Manis, Padang. Kapal dan segenap isinya berubah menjadi batu.</p>
<p>Ke lokasi kapal Malin Kundang itulah saya dan anak-anak serta anak adik-adik berlibur, Rabu, 24 Juni 2008. Anak-anak asyik mandi riang gembira sehabis mendengar kisah tragis Malin Kundang yang sukses tapi karena durhaka berubah menjadi batu.</p>
<p>Terus terang, bagi Urang Awak kisah Maling Kundang sudah dikenalkan sejak kanak-kanak. Terlepas, perdebatan historikalnya. Lagi pula, memang ada ‘bukti’, setidaknya bebatuan yang berupa kapal. Selalipun wujud aslinya tidak pernah melihat, dan sudah ada sentuhan pemugaran, tidak sapat tidak, kalaulah Pemko Padang atau Pemprov Sumatera Barat, keberadaan batu Malin Kundang adalah akses pariwisata tiada terkira nilainya.</p>
<p>Lebih penting, legenda Malin Kundang, adalah kisah bermuatan pendidikan, durhaka pada ibu adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, apalagi kalau sampai dikutuk. Malin Kundang yang menyampaikan pesan bagi kita semua.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Padang, 24 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/24/malin-kundang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Danau ke Danau</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/23/dari-danau-ke-danau/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/23/dari-danau-ke-danau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 15:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1185</guid>
		<description><![CDATA[TERPESONA. Pagi berselimut kabut belum di usik mentari pagi. Pori-pori terjaga digoda dingin. Mobil seolah meliuk-liuk mengikuti jalan yang bekelok-kelok patah. Seakan disempunakan tatapan batu cadas di sisi kiri menutup pandangan, di sisi kanan jurang sepandangan seolah melambaikan ngeri. Nun, di ujung sana terhampar Danau Maninjau. Allah SWT menciptakan kenikmatan dengan pesan, bisa jadi begitu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TERPESONA. Pagi berselimut kabut belum di usik mentari pagi. Pori-pori terjaga digoda dingin. Mobil seolah meliuk-liuk mengikuti jalan yang bekelok-kelok patah. Seakan disempunakan tatapan batu cadas di sisi kiri menutup pandangan, di sisi kanan jurang sepandangan seolah melambaikan ngeri. Nun, di ujung sana terhampar Danau Maninjau. Allah SWT menciptakan kenikmatan dengan pesan, bisa jadi begitu, dalam balutan kegerian  tertanam keindahan.</p>
<p>Saya tak hendak meneskploitasi keindahan Danau Maninjau dengan 44 Kelok menghadirkan pemandanhan nyaris sempurna. Sebab, telah menulisnya. Yang lebih mempesona justru Danau Kembar, Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah. Ya, danau yang tidak mungkin di temui dibagian mana pun di dunia. Lagi pula, dari Muaralabuh ke Padang, begitu dilakoni sejak kecil, wajib dilalui. Itulah jalan satu-sayunya ke kapung tercantik di dunia di bawah lindungi gunung Keinci itu.<span id="more-1185"></span></p>
<p>Bagi yang belum pernah ke Danau Kembar, bayangkan. Satu danau terhampar dengan pohon pinus di tepinya, awan selalu menyelimuti, dinginnya membekukan lemak pada masakan, itulah Danau di Ateh yang sebenarnya berposisi di bawah. Danau di Bawah, beberapa ratus meter yang kini dapat di lihat secara ambak sebab ada lokasi rancak yang dibangun Disbudpar Kabupaten Solok. Di Kiri Danau di Ateh di Kanan Danau di Bawah.</p>
<p>Saya sungguh beruntung. Ketika gagasan mengelilingi Danau di Bawah, rombongan setuju. Anton, sopir Inova awalnya agak ragu, belum pernah mengelilinginya. Bapak memberi semangat, puluhan tahun lalu, Beliau membangun SD di tepi uatara Danau di Bawah. Klop.</p>
<p>Subhanallah &#8230; Danau itu indah nian. Dalamnya, menjadikan pandanga danau itu terlihat hijau. Lagi pula, tidak ada jalan ke luar air danau. Artinya, tidak ada pembuangan. Entah bagaimana penjelasana geologisnya. Saya belum sempat membaca refernesinya.</p>
<p>Mahasuci Allah &#8230; dari pesawat, ketika ke Jakarta, saya sempat mengambil foto Danau Kembar. Dungunya saya, kok menjadi tiga. Jangan-jangan salah pengetahuan. OK nanti didudukkan. Yang jelas, saking terpesona, saya kesusahan mengambarkan dengan kata-kata.</p>
<p>Satu hal memapan, akan mengulangi perjalanan tersebut. Menuju Solok, bukan melewati Lubuk Selasih, tetapi menyusuri bibir Danau di Ateh. Saya bisa memaklumi anak-anak terkadang ngeri, sebab kalau menurun atau mendaki bisa dengan kemiringan 45 derajat.</p>
<p>Begitulah. Ketika sampai di Danau Singkarak, karena terlalu  sensainya tidak terlalu terasa. Tugas membawa anak-anak berkelana dari danau ke danau usai sudah. Semoga mereka mereguk muatan kekuasaan Allah SWT. Amin.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Jakarta, 25 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/23/dari-danau-ke-danau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Maninjau</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/21/maninjau/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/21/maninjau/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 08:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1184</guid>
		<description><![CDATA[SEJUK. Titel pulang kampung kali ini liburan anak-anak, karena itu yang memutuskan segala hal mereka. Kami pelayan. Setahunan menabung hingga terkumpul dana untuk tiket harga peak seasion. Selain tiket urusan Ibunya. Ternyata anggaran tiket masih berdamai, separuh saja.
Begitulah. Prioritas ke Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang, baru ke Muaralabuh. Ini bukan liburan kampung pertama  bagi mereka. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEJUK. Titel pulang kampung kali ini liburan anak-anak, karena itu yang memutuskan segala hal mereka. Kami pelayan. Setahunan menabung hingga terkumpul dana untuk tiket harga peak seasion. Selain tiket urusan Ibunya. Ternyata anggaran tiket masih berdamai, separuh saja.</p>
<p>Begitulah. Prioritas ke Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang, baru ke Muaralabuh. Ini bukan liburan kampung pertama  bagi mereka. Apa boleh buat, pulang ke rumah nomor dua. Jelas, akan dipermasalahkan keluarga. Untuk praktik demokrasi diperlukan pengorbanan. Siap pasang badan.<span id="more-1184"></span></p>
<p>Begitulah, selagi asyik longok sana longok sini, HP bersiul, Pak 15 menit lagi kami naik pesawat. Anak-anak menumpang pesawat dari bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, saya bergegas ke luar arena Pekan Raya Jakarta. Taksi Pusaka, grup Blue Bird, mengantar ke Soekarno Hatta. Ternyata masih ada waktu. Mampir di pijat refleksi. Tertidur dipijat sekitar 20 menit, langsung ke area transit. Tidak lama, anak-anak dan ibunya nongol. Hmm &#8230; senangnya.</p>
<p>Bersegera kami menuju Gate 1, ruang keberangkatan ke Padang. Membuka laptop eit ada pengumunan: &#8230; Para penumpang Lion Air ke Padang, kami mohon maaf, tehnisi Lion Air sedang memeperbaiki kerusakan kecil pesawat. Penerbangan ke Padang diundur sekitar 30 menit.</p>
<p>Sebelum naik pesawat menelepon Aprison, minta tolong mobil. Di Minangkabau International Airpot, setelah menyelesaikan urusan bagasi, ke mobil. Wualah setiap orang membawa koper sendiri dan oleh-oleh. Bagian belakang Inova penuh sesak. Padahal, kebiasaan saya bila bepergian bermodalkan tas laptop ditambah tas jinjing atau kresek.</p>
<p>Inova meluncur ke arah Bukit Tinggi. Di RM Lamun Ombak berhenti untuk makan malam. Asyiik. Di Air Terjun Lembah Arau berhenti dan memoto yang ternyata hasilnya berupa bintik-bintik saja. Padagal sudah berlagak bak fotografer profesional he he &#8230;</p>
<p>Menikmati Jam Gadang sebentar lalu ke Limas International Hotel. Setelah makan Sate Padang tidur. Dingin Bukit Tinggi di pagi itu tidak mengiringkan niat ke Maninjau.  Wualah mula-mula anak-anak bersorak-sorai riang gembira &#8230; eit rupanya kepala mereka pada pening mengikuti liukan tajam Kelok 44. Menjelang makan di bibir Danau Maninjau, Azta, Si Bungsu, muntah. Nah &#8230; masuk angin di jantung hati.</p>
<p>Hutan lebat, kabut, jalan meliuk-liut dirangkum dalam pengalaman mengangumkan, itulah kiranya yang dirasakan anak-anak. Letih dan pening, tinggal kenangan. Perjalanan dilanjutkan ke Padang sembari menikmati Silaing dan Lembah Arau. Saya pernah mendengar cerita bangga: Allah SWT sedang tersenyum ketika menciptakan Alam Minangkabau.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Muaralabuh, 21 Juni 2009.</p>
<ol></ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/21/maninjau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Calo Di Bandara</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/20/calo-di-bandara/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/20/calo-di-bandara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 08:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1182</guid>
		<description><![CDATA[CALO. Sejak pertama naik pesawat terbang, puluhan tahun lalu, satu hal (paling) tidak mengenakkan adalah soal calo. Gara-gara calo tiket pesawat, bisa membuat perjalanan kurang nyaman. Seseorang yang punya tiket saja ditanyai ini-itu, apalagi yang belum. Kalau tatapan kurang garang, bisa diseret-seret. Tidak elok dipandang tidak nyaman dirasakan.
Memahami jalur pertiketan di tangan calo, rada-rada lucu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CALO. Sejak pertama naik pesawat terbang, puluhan tahun lalu, satu hal (paling) tidak mengenakkan adalah soal calo. Gara-gara calo tiket pesawat, bisa membuat perjalanan kurang nyaman. Seseorang yang punya tiket saja ditanyai ini-itu, apalagi yang belum. Kalau tatapan kurang garang, bisa diseret-seret. Tidak elok dipandang tidak nyaman dirasakan.</p>
<p>Memahami jalur pertiketan di tangan calo, rada-rada lucu dan membingungkan. Lazimnya, tiket pesawat dijual di loket atau kantor maskapai penerbangan, atau di travel-travel. Tapi, bagaimana para calo bisa ‘menguasai’ tiket? Di loket boleh habis, di agen bisa saja ludes, tapi di depan loket maskapai penerbangan di bandara, sangat mudah ditemui &#8212;tepatnya didatangi&#8211; oleh mereka yang menawari tiket. Sekali lagi, sekalipun tiket di loket sudah habis.<span id="more-1182"></span></p>
<p>Padahal pula, belakangan ini, pembelian tiket disertai kartu identitas, KTP atau SIM. Tujuannya agar tiket penumpang sesuai dengan siapa yang menumpang. Artinya, tidak memungkinkan sesorang memakai nama orang lain untuk terbang. Membeli tiket atas nama sendiri dan naik pesawat berdasarkan tiket tersebut.</p>
<p>Pertanyaan, Bagaimana calo bisa membeli tiket sementara penumpang yang akan dicaloi belum ada? Atau, ataukah calo mencari pembeli, membeli tiket kemudian dijual?</p>
<p>Kalaulah dinalar akan pusing sendiri. Pasti sudah, kalau bermaksud bepergian membeli tiket terlebih dahulu di travel atau di loket airline bersangkutan di bandara. Syaratnya sangat jelas, tiket dijual sesuai nama yang tertera di TKP pembeli. Kebijakan cerdas.</p>
<p>Hanya saja, kalaulah aturan diterapkan, tidak mungkin akan pernah ada calo tiket di bandara, apalagi di depan loket penerbangan. Atau, ataukah memang ada kongkalingkong antara pihak-pihak terkait hingga hal yang tidak mungkin menjadi mungkin? Cincailah.</p>
<p>Saya tak hendak membahas lebih kanjut. Kalau tertarik, atau pernah memikirkannya amati agak serius. Akan ditemui kelucuan tataran logika dan aplikasi. Kalau mau menikmati bandara tanpa calo, singgahi bandara Changi, KLIA, Jeddah atau banyak bandara di luar negeri. Di Indonesia?</p>
<p>Jangan bertanya kepada saya, buktikan saja. Pernah terlintas di pikiran, seandainya presiden terpilih mampu mengerakkan jajaran teritori bandara &#8212;minimal bandara Sekarno-Hatta&#8212; sungguh kemajuan luar biasa. Ataukah kita akan masih diringis soal calo, TKI ‘dikerjain’ di bandara Tanah Air tercinta. Atau, mungkin diperlukan waktu seratus tahun ke depan. Kalau sekarang kepesimistisan adalah wajar, sebab banyak orang melihat dan merasakan ketidaknyamanan, paling-paling mengerutu dan hal-hal lucu terus terjadi.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Langit, 20 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/20/calo-di-bandara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesawat</title>
		<link>http://webersis.com/2009/06/19/pesawat/</link>
		<comments>http://webersis.com/2009/06/19/pesawat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 08:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EWA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1183</guid>
		<description><![CDATA[SEDIH. Gagasan Wright bersaudara untuk dapat terbang bak burung, kalau ditinjau dari keadaan sekarang, tentu jauh melampaui gagasannya. Jangankan antar benua, antar planet pun manusia mampu mengembangkan ‘kuda besi’ transportasi. Jarak dapat ‘diringkas’. Shalat subuh di Padang, pukul 10.000 Sampeyan bisa saja sudah memberi ceramah di Jogya, lalu malamnya berjalan-jalan di Orchad Road Singapura.
Kalau dihitung-hitung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEDIH. Gagasan Wright bersaudara untuk dapat terbang bak burung, kalau ditinjau dari keadaan sekarang, tentu jauh melampaui gagasannya. Jangankan antar benua, antar planet pun manusia mampu mengembangkan ‘kuda besi’ transportasi. Jarak dapat ‘diringkas’. Shalat subuh di Padang, pukul 10.000 Sampeyan bisa saja sudah memberi ceramah di Jogya, lalu malamnya berjalan-jalan di Orchad Road Singapura.</p>
<p>Kalau dihitung-hitung, sekalipun frekuensinya belum seberapa, saya termasuk yang sering menggunakan jasa pesawat komersial untuk bepergian. Dalam bulan ini, untuk satu hal ke UPI, sudah tiga kali pergi pulang ke Bandung. Atas ‘panggilan’ keluarga dan berlibur, dua kali pergi pulang ke Padang. Lalu apa yang menarik?<span id="more-1183"></span></p>
<p>Saya sering mendengar cerita teman-teman yang kembali dari Jepang bahwa orang Jepang sangat suka membaca. Begitu cerita favorit mereka lengkap dengan kembangan dan bumbu penyedap. Kesannya, orang Indonesia itu malas membaca. Bolehlah. Tapi, setelah di Tanah Air, aslinya keluar, dia malas jua ai membaca. Dasar.</p>
<p>Biasanya, setelah awak kabin mengumumkan ikat pinggang pengaman boleh dilepas, banyak yang mengambil posisi nyaman, tidur. Bahkan, ada yang begitu pesawat lepas landas, go ke dunia mimpi.</p>
<p>Kira-kira, sekitar sepuluhan orang dari sekitar 200 penumpang membaca koran. Selain itu, ada yang berbincang dengan temannya, atau menjaga anak. Saya sangat jarang dapat saingan, menulis. Dapat dipastikan, menulis di pesawat tidak menjadi pilihan banyak orang. Itu kalau naik Lion Air.</p>
<p>Kisah agak berbeda bila naik Garuda. Biasanya memilih Garuda sebagi pilihan pertama. Kalau penumpang Garuda nampaknya memilih tidur pada bagian kedua waktu terbang. Kenapa?</p>
<p>Pengamatan saya, pada paroh awal penerbangan pramugari menawarkan permen. Kemudian minuman dan makanan. Pramugari sibuk melayani penumpang, penumpang sibuk mengisi perut. Biasanya pula, tidak berapa lama kemudian tertidur, dan terjaga ketika ada pengumunan: Para penumpang yang terhormat, dalam beberapa saat lagi kita akan mendarat di &#8230;</p>
<p>Saat menulis tulisan ini, kedua orang di sebelah kiri saya, bisa jadi sedang berkelana ke Kutup Utara dalam mimpinya. Matanya terpejam, kumisnya sedikit bergerak-gerak, jam tangnnya menunjuk angka 08.30. Sehirupan-sehiruan melalui ngangaan mulutnya dengkurnya bergabung dengan bunyi mesin pesawat. Hayya &#8230; Selamat datang di Bandara Soekarno-Hatta Tanggerang.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
<p>Langit, 19 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2009/06/19/pesawat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
