Menulis Seronok

16 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

AGITASI, boleh pula dikatakan provokasi, melalui media cetak, arena seminar, pelatihan, dan terutama (belakangan) melalui www.webersis.com nampaknya sudah saatnya bergeser bingkai. Kalau sebelumnya lebih kepada motivasi, yang penting menulis dulu, kini beralih setapak demi setapak, bagaimana menulis yang nyaman; nyaman dibaca oleh pembaca tentunya, he he.
 
Hal ini berkaitan dengan langkah kedua Ersis Writing Theory, yang diapungkan sebagai bukan teori, padahal kalau dikenakan pisau analisis, bisa jadi teori juga ai. Kalaupun ‘terpeleset’ menjadi teori, dasar pikirnya jelas, memudahlan menulis, bukan membelenggu. Harus begini, begana, begene, begitu, sampai menunggi mood atau kondisi tertentu dianggap kuno. Itu belenggu. Teruskan membaca »

BBM Bakalan ‘Terbang’?

15 May 2008

Wacana kenaikan BBM (hampir pasti), menuai protes. Pemerintah berargumen, kalau tidak naik, APBN (P) bakalan ‘gawat; tersedot subsidi. Bagaimana kalau jurus ngutang? Kata Wapres JK, siapa yang mau ngutangi untuk subsidi BBM. Nah, buah simalakama.

Kalau protes meningkat, bisa-bisa jadi … yang ujung-ujung … duh susah membayangkan. Sekalipun, alasan pemerintah mengalihkan subsidi dari kalangan berpunya kepada kalangan tidak berpunya.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Ahimsa Menulis

15 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MAHATMA Gandhi pejuang cerdas dan tangguh Tanah Hindi nampaknya melihat, perjuangan kehidupan adalah perjuangan ‘penyelamatan’ kemanusian, dan bahkan perkebinatangan. Sesama makhluk Sang Mahapencipta jangan menyakiti, apalagi membunuh. Menggunakan kekerasan tabu. Bapak kemanusian berkesederhanaan tersebut sungguh merasuk jiwa.
 
Tentu Gandhi anti penjajahan. Namun, dalam melawan penjajah bukan harus dengan kekerasan. Non-violence adalah pilihan. Tidak bekerjasama dengan penjajah. Lebih efektif. Inggris merancah ekonomi anak Benua India dengan landas pikir kolonialisme. Kata Gandhi, jangan beli produk Inggris, tenun sendiri baju yang hendak dipakai, … jangan lakukan kekerasan. Inggris ‘mati’ pelan-pelan di India. Teruskan membaca »

Ambisi Menulis

14 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SAYA bukan ambisius, kata seorang teman ketika mengutarakan keinginan menjadi Kepala Daerah. Mau ambisius atau tidak terserah. Banyak orang memahami kosakata ambisius berkonotasi negatif. Kalau berambisi, berkeinginan keras mencapai sesuatu, nyaman secara sosial. Berambisi bagus, ambisius tunggu dulu.
 
Bila seseorang berambisi menulis tentu bagus. Sebab, keinginan yang kuat adalah bahan bakar untuk ‘sukses’. Konon, kalau ambisius bisa menghalalkan segala cara. Kalau demikian, janganlah. Sebab, menulis adalah urusan kita dengan diri kita. Menulis kalau tidak didorong keinginan yang kuat, yah susah. Sudah jamak sesuatu yang tidak berasal dari diri, dari keinginan yang kuat, akan menguap begitu saja. Teruskan membaca »

Akselerasi Menulis

13 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENULIS sangat mudah. Kalau ingin menulis, tulis saja. Kalau belum lancar, terus menulis, lama-lama terbiasa. Kalau sudah terbiasa, pasti lancar. Intinya lakukan. Jangan akan. Akan, menulis anu, dan anu. Tulis. Pasti jadi tulisan.
 
Masih ingat karya Bobbi DePorter, Quantum Learning, Quantum Teaching, Quantum Business atau karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Accelerated learning for The 21st Century. Atau buku Adi. W. Gunawan, Genius Learning Strategy. Buku-buku tersebut sangat bagus untuk memahami akselerasi pembelajaran. Teruskan membaca »

Tantangan Buat Mahasiswa

12 May 2008

Hallo teman-teman. Jarang lho yang nulis tentang kampus sendiri, ya kampusnya, dosennya, maahasiswanya, karyawannya, sistemnya, atau apa saja, fisik dan non-fisik. Bagaimana kalau menulis ‘diri sendiri’, melihat diri. Mana tahu dapat masukan dari teman-teman. Salam.

Agitator Menulis

12 May 2008

Oleh Ersis warmansyah Abbas

Buku SyaharuddinPEMANTIK menulis, sebagaimana rizki, terkadang datang tanpa diduga. Kalau Allah SWT mendatangkan rizki, tanpa mengharapkan akan didapat. Wajar, Rasulullah tidak mengajarkan, tidak ada hadis, menolak rizki. Rizki datang dari Allah.
 
Menulis tentu bukan ’rizki’ dalam artian harpiah. Hanya saja, kalau mampu dimaknai bisa jadi ‘ibu’ rizki. Menguntungkan secara psikologis, berupa amal manakala untuk kebaikan, dan berbuah rizki (pendapatan) kalau bermanfaat oleh pembaca. Teruskan membaca »

Adrenalin Menulis

12 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PERMAINAN atau olah raga yang dapat memicu adrenalin, menaikkan tekanan darah dan denyut jantung, kini seolah mewabah di banyak tempat. Di Taman Impian Jaya Ancol banyak pilihannya, dari tora-tora sampai roadcoaster. Di Bali ada yang melambungkan badan ke udara. Kalau pengecut, jangan coba-coba. Ibarat kata, bisa copot jantung. Ih … ngeri.
 
Adrenalin dalam artian memicu kehendak menulis tentu tidak soal. Lagi pula, caranya mudah dan murah meriah. Misalnya membaca atau berdiskusi, mengamati fenomena alam, atau sekadar menikmati keindahan alam. Menumpahkan kekesalan atau menyampaikan kegembiraan. Bisa pula hal-hal ringan atau yang membeban pikiran. Kalau di memenej dapat memacu adrenalin menulis. Teruskan membaca »

Novel: Lolo (6.2)

12 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Sesuai kesepakatan, dalam menunaikan tugas, soal cara urusan masing-masing. Yang penting, tugas dijalankan. Lolo mendatangi lagi PT TAR. Tetap ditolak. Sekalipun demikian, Lolo mendapat sedikit celah. Lebih mengenal represionis perusahaan, Panai. Gadis cantik asal Marabahan.
 
Celah itu dimanfaat sempurna. Lolo mendatangi tempat kos Panai. Diterima setengah hati. Bahkan, pada kedatangan pertama ibu kos yang menemui Lolo memakai jurus kuno: “Maaf Nak Lolo, Panai lagi kurang enak badan”. Teruskan membaca »

Novel: Lolo (6.1)

12 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MALAM ITU. Lolo tersandar lemas. Pikirannya mengawang. Hatinya gundah. Kiriman dari kampung tidak kunjung datang. Bapaknya, Lurah Kelurahan Gempol, tanpa sebab yang jelas —menurutnya— diperiksa kejaksaan, dan dijebloskan ke Hotel Pordeo. Kasusnya penggelapan uang Bantuan Tunai Langsung (BTL). BTL sebagai kompensasi kenaikan BBM untuk rakyat kecil. Kasus itu menista keluarganya.
 
Ketika pulang kampung, sempat berdiskusi. Menurut Bapaknya, dia tidak tahu menahu-nahu soal penggelapan uang BTL tersebut. Petugas kecamatan, memerintahan membagikan uang kepada keluarga miskin sebanyak Rp.500 juta. Lalu dia disuruh menandatangi kuitansi sebesar Rp.2 miliar. Teruskan membaca »

Busur

11 May 2008

Oleh Ersis warmansyah Abbas

OTAK tiap hari ditimbuni berbagai informasi. Dari apa yang dilihat, dibaca, didengar, dirasa, diraba atau dipikirkan sekalipun. Proses kerja otak, saking aktifnya, bahkan ketika ‘tidak sadar’ seperti ketika kita tidur, hampir tidak penah berhenti. Memori otak unlimited. Kalau otak berhenti beraktiviatas pertanda sesorang wassalam.
 
Dapat dibayangkan, betapa banyaknya tumpukan sari pati atau ampas dari kerja otak. Kemana semua itu disalurkan? Satu caranya dengan menulis. Tidak berlebihan manakala menulis dipandang katarsis, membersihkan kerak-kerak otak. Kalau katarsis tidak pernah dilakukan, dan apa yang bergelora di otak dihimpit dengan lamuan, misalnya, dapat dibayangkan betapa menumpuknya. Ibarat busung, atau karena tumbang tindih, otak bisa hang. Kalau sudah begitu, gawat am. Teruskan membaca »

Bual

11 May 2008

Oleh Ersis Warmansya Abbas

TONG kosong nyaring bunyinya. Begitu pepatah tentang orang yang kalau bicara, omong kosong, cakap besar alias bual. Membual berarti bercakap-cakap yang bukan-bukan (sombong). Dalam menulis tinggal memindahkan maknanya, menulis dalam katup tidak berdasar, hil yang mustahal. Jauh dari yang sebenanrnya.
 
Suatu kali, ketika menulis di media cetak, dibuali seseorang. Luar biasa omong kosongnya tentang tulisan yang baik dengan kaidah bahasa sempurna. Saking muaknya saya katakan: “Mas, tulis apa yang diomongin (cakapkan), kalau bagus nanti saya tiru”. Kenyataannya? Teruskan membaca »

Bumerang

10 May 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ABORIGIN, penduduk asli Autralia mempunyai senjata khas, bumerang. Senjata berbentuk lengkung dari kayu tersebut, apabila dilemparkan dan tidak mengenai sasaran, dapat kembali kepada si pelempar. Perkataan atau perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri, disebut bumerang. Dalam menulis, bumerang dapat diartikan apabila ‘melontarkan’ sesuatu, kiritikan atau hujatan, kembali kepada diri sendiri.
 
Mengkritik, tanpa dasar dan argumen, apalagi asbun, dipastikan kembali ke diri. Suatu kali, seorang petinggi kampus, entah entah atas dasar apa, menyebut teman-teman dosen yang rajin menulis di media cetak sebagai Dosen Koran. Daud Pamungkas sebalnya ke ubun-ubun, dan ditulisnyalah artikel bertitel: Dosen Koran. Daud menulis kepositifan dosen menulis di media cetak. Teruskan membaca »

Buntu

10 May 2008

Oleh Ersis warmansyah Abbas

MENULIS menuangkan pikiran. Begitu sering saya tulis. Kalau pikiran buntu, tidak seorangpun mampu menulis. Ya, bagaimana mau menulis kalau segala ‘lubang’ untuk keluaran pikiran tertutup, buntu. Jangankan mengeluarkan, wong pikirannya saja tertutup he he.
 
Berbahagialah yang mampu menulis. Apa pun analisisnya, menandakan pikiran tidak buntu. Bisa pula pikiran tidak buntu, tetapi menulisnya buntu. Kalau yang terakhir, bisa jadi pikirannya masih normal, tapi ya tu tadi, menulisnya buntu. Kenapa bisa buntu? Teruskan membaca »